Rabu, 14 Juli 2021

Another Side of Me- Part 1_ Aku Lee Minhyuk

di Juli 14, 2021

Hari ini Lee Minhyuk enggan untuk langsung pulang ke rumahnya. Rumah yang telah ia tempati kurang lebih 6 tahun itu tetap asing baginya. Tidak ada kehangatan di dalam rumah itu, semua orang yang ada disana terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Lee Minhyuk berjalan pelan menyusuri jalan setapak dekat kampusnya. Sesekali ia menendang batu-batu kecil yang menghalangi langkahnya. Kemudian ia berhenti di depan sebuah restoran kecil yang ada disana. Ia memperhatikan seorang Ahjussi yang nampak sibuk menurunkan kardus-kardus yang cukup besar. Entah kenapa saat melihat Ahjussi itu, ia teringat akan ayahnya. Ayah yang ia rindukan, yang sudah hampir Lee Minhyuk lupakan wajahnya.

Lee Minhyuk pun menghampiri Ahjussi itu. Ia membantunya membawakan kardus-kardus besar untuk dipindahkan dari mobil ke dalam restauran.

"Gomawoyo, anak muda. Kau baik sekali." Ucap Ahjussi itu setelah kardus-kardus yang ada di dalam mobil selesai ditata rapi di dalam restaurannya. Ahjussi itu tersenyum hangat. Lee Minhyuk mengangguk sopan sembari tersenyum, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari restauran tersebut. Namun baru selangkah ia pergi, Ahjussi itu menarik tangannya, lalu mendudukannya ke salah satu kursi yang ada di restauran.

"Tunggu sebentar disini, aku akan membawakan makanan yang lezat untukmu. Kau pasti laparkan?" Belum sempat Lee Minhyuk menjawab pertanyaannya, Ahjussi itu sudah melenggang pergi, masuk ke dalam ruangan yang terletak di bagian pojok restauran.

Lee Minhyuk hanya bisa menuruti permintaan Ahjussi itu. Ia tau sopan santun, ia tidak mungkin pergi begitu saja dari sana. Lagipula ia juga lapar, dan yang terpenting ia malas untuk pulang ke rumah.

Selagi menunggu Ahjussi menyiapkan makanan, Lee Minhyuk menyempatkan dirinya untuk melihat setiap sudut restauran. Restauran ini tidak terlalu besar, hanya ada sekitar 5-6 meja yang tertata rapi disana. Setiap meja dilengkapi dengan 4 kursi yang mengelilingi meja. Ada beberapa lukisan sederhana yang tergantung disana, yang menambahkan kesan nyaman ketika melihatnya.

"Maaf telah menunggu lama." Ujar Ahjussi itu sembari menaruh beberapa lauk-lauk dan nasi di atas meja.

“Jal meokgessseumnida.” Lee Minhyuk tersenyum ketika melihat lauk-lauk yang sudah tertata rapi. Setelahnya ia mulai memakan makanan itu dengan lahap sampai semua makanan itu habis tak tersisa.

"Kamsahamnida Ahjussi, masakanmu sangat lezat." Ujarnya sambil tersenyum kepada Ahjussi. Makanan yang disajikan Ahjussi tadi memang tidak semewah makanan yang ada di rumahnya, namun bagi Lee Minhyuk makanan itu yang paling enak yang pernah ia makan, selain masakan ibunya tentunya.

"Ahjussi, saya pamit pulang dulu. Sekali lagi terima kasih atas makanannya." Lee Minhyuk kemudian bangkit dari kursinya, ia membungkuk sopan kepada Ahjussi itu.

"Baiklah. Selamat jalan, kalo kau mau kau boleh datang kemari, akan aku hidangkan makanan yang lebih enak dari ini, asal kau mau membantuku lagi." Kata Ahjussi itu sambil tertawa. Ia suka menggoda anak muda di depannya. Entah ia menganggap anak muda itu lucu karena terlihat polos sekali. Apalagi ketika ia makan, mata yang tandinya sayu itu terlihat berbinar tanpa sebab yang jelas.

"Ne. Saya pasti akan datang lagi." Ujar Lee Minhyuk, lalu ia melambaikan tangannya dan benar-benar pergi dari restauran itu.

Senyuman Lee Minhyuk terus terukir di bibir merahnya yang mungil. Ia sudah lama tidak merasakan kehangatan di dalam hatinya. Ahjussi itu sangat baik, ia nyaman berada di dekat Ahjussi itu. Selain itu masakannya sangat cocok untuk lidahnya.

Langkah ringan Lee Minhyuk tiba-tiba berhenti di depan gerbang rumah mewah yang besar. Seketika senyum Lee Minhyuk memudar dan tergantikan dengan ekspresi muka datar.

Pria tua yang sedang berada di pos depan gerbang itupun buru-buru membuka gerbang itu, mepersilahkan Lee Minhyuk untuk masuk.

Sepi dan dingin, suasana yang sama yang Lee Minhyuk dapatkan ketika pertama kali datang ke rumah ini 6 tahun yang lalu. Lee Minhyuk melangkahkan kakinya menaiki tangga yang terlihat megah itu. Saat sudah sampai di lantai 2, ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang terletak paling ujung. Namun langkahnya kembali terhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu kayu besar yang mengkilap.

 

"Ayah tidak bisa mengambil keputusan seenaknya begitu! Anak itu bahkan baru menjadi bagian dari keluarga kita. Aku berani taruhan, anak itu bahkan tidak tau caranya bersikap sebagai keluarga terpandang!"

"Ya Lee Eunbi jaga omonganmu! Dia anak dari kakakmu! Bagaimana pun jelas dia adalah cucu pertama ku. Lagipula aku sudah memperhatikannya cukup lama saat ia masih di panti asuhan, ia anak yang pintar dan rajin, ayah yakin ia akan bisa meneruskan perusahaan ayah kelak."

Lee Minhyuk mengembuskan napasnya kasar, ia mengusap wajahnya dengan frustrasi, mengacak-acak poni rambutnya yang tadinya tersusun dengan rapi menutup keningnya, kepalanya tiba-tiba pening. Pertengkaran antara Haraboji dan Imonya itu bukan sekali atau dua kali ia dengar, tapi hampir setiap saat. Mereka berdua bertemu hanya untuk bertengkar dan alasan mereka bertengkar adalah dirinya.

Masih segar diingatannya, ketika 6 tahun lalu tiba-tiba ada seorang pria tua datang menghampirinya ketika ia sedang membaca sendirian di taman panti asuhan tempat ia tinggal dulu. Pria tua itu mengaku sebagai kakeknya dengan menunjukkan foto-foto antara pria tersebut dengan Ibu Lee Minhyuk. Sejak saat itu ia pun pindah ke rumah mewah yang sekarang ia tempati.

Lee Minhyuk buru-buru pergi menuju kamarnya ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mendekati pintu. Ia masuk dengan cepat ke dalam kamarnya. Mengunci kamarnya. Suasana hatinya berubah dengan cepat menjadi muram. Ia merobohkan tubuhnya di depan pintu kamarnya. Menekuk kedua lututnya dan menyebunyikan wajahnya di antara sela-sela lututnya. Entah kenapa hari ini sepertinya energinya terkuras begitu saja. Perlahan –lahan ia menutup matanya.

"Minhyuk-ie jangan lari-lari nanti jatuh." Wanita muda itu berusaha untuk menangkap anaknya yang masih beusia 5 tahun itu. Anak yang dipanggil Minhyuk itu terus berlari sambil tertawa. "Eomma tangkap aku kalo bica." Ujarnya sambil menjulurkan lidah mungilnya. Ia kembali tertawa dan berlari mengelilingi taman.

"Eomma pas aku besal, aku mau jadi atlet lali ya?" Katanya lucu, ia memandang ibunya dengan tatapan berbinar. Wanita muda itu tersenyum lalu mengacak-acak rambut anaknya pelan.

"Lakukan apapun yang Minhyuk-ie mau. Selama itu membuat Minhyuk-ie senang Eomma akan selalu mendukung Minhyuk-ie." Wanita itupun mencium kening anaknya lembut.

“Eomma janji ya akan selalu menemaniku?”tanya Minhyuk kecil, ibunya mengangguk pelan, ia tersenyum kemudian memeluk tubuh kecil anaknya.

“Ne.. Eomma akan selalu berada di sisi Minhyuk-ie selamanya.”

 **************************************

Pria itu memandang cermin yang ada di depannya dengan tatapan bangga. Ia memperhatikan dengan detail pantulan dirinya itu di cermin, lalu menyisir rambutnya ke belakang, sehingga keningnya terlihat sempurna.

“Kau memang tampan.” Ujarnya sambil sedikit menggerakan ujung atas bibirnya ke arah atas. Ia kemudian mengambil jaket kulit berwarna hitam pekat, dan memakainya. Jaket itu ia biarkan terbuka dan memperhatikan kaos hitam yang cukup ketat sehingga membentuk tubuhnya yang berotot.

“Mari kita berpesta malam ini.” Setelah mengatakan itu, ia pun melangkah keluar meninggalkan kamarnya. Ia berdiri di bawah lampu jalan yang tidak jauh dari rumahnya, salah satu tangannya ia masukan ke dalam saku, tiang lampu yang berada di belakangnya ia gunakan untuk menompang tubuhnya.

Tidak lama kemudian sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya, kaca mobil itu kemudian terbuka setengah, dan melihatkan pria plontos yang ada di dalamnya.

“Hyung, ayo masuk.” Ujar pria plontos itu di dalam mobil. Pria yang dipanggil ‘Hyung’ itupun kemudian membuka mobil dan duduk di sebelahnya.

“Ya Peniel! Sudah ku katakan panggil aku Huta saja!”

 

Cerita ini tersedia juga di wattpad dan kemungkinan dipost lebih dulu disana. So.. buat kalian yang punya wattpad, jangan lupa mampir yaa... ditunggu juga kritik dan sarannya...

Adisti & Yuli

0 komentar:

Posting Komentar

 

A N L Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea