Jumat, 04 April 2014

Psikoterapi

di April 04, 2014 0 komentar

  •  Definisi Psikoterapi

              Dilihat secara etimologis, psikoterapi memiliki arti yang sederhana, yaitu ‘psyche’ yang artinya jelas, yaitu ‘mind’ atau sederhananya: jiwa dan ‘therapy’ dari bahasa Yunani yang berarti ‘merawat’ atau ‘mengasuh’, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan ‘psychotherapy’ tidak tercantum, tetapi ada ‘psychotherapeutic’ yang di artikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologis terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.

  • Tujuan Psikoterapi 


       Ada lima tujuan psikoterapi dan kebanyakan terapi memusatkan perhatian pada salah satu atau lebih di antara tujuan-tujuan itu. Kelima tujuan tersebut dapat diutarakan di bawah ini (Huffman, et al., 1997).
1.      Pikiran-pikiran kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan secara khas mengalami konfusi, pola-pola pikiran yang destruktif, atau tidak memahami masalah-masalah mereka sendiri. Para terapis berusaha mengubah pikiran-pikiran ini dan memberikan ide-ide atau informasi baru, dan membimbing individu-individu tersebut untuk menemukan pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah mereka sendiri.
2.      Emosi-emosi yang kalut. Orang-orang yang mencari terapi pada umumnya mengalami emosi yang sangat tidak menyenangkan. Dengan mendorong pasien untuk mengungkapkan secara bebas perasaan-perasaan dan memberikan suatu lingkungan yang menunjang, para terapis membantu mereka menggantikan perasaan-perasaan tersebut, seperti perasaan putus asa dan perasaan tidak mampu dengan perasaan-perasaan yang mengandung harapan dan percaya akan diri sendiri.
3.      Tingkah laku-tingkah laku yang kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan biasanya memperihatkan tingkah laku-tingkah laku yang mengandung masalah. Para terapis membantu pasien-pasien mereka menghilangkan tingkah laku yang menganggu itu dan membimbing mereka kepada kehidupan yang lebih efektif.
4.      Kesulitan-kesulitan antarpribadi dan situasi kehidupan. Para terapis mem-bantu pasien-pasien memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga, teman-teman, dan kolega-kolega seprofesi. Mereka juga membantu para pasien itu menghindari atau mengurangi sumber-sumber stres dalam kehidupan mereka seperti tuntutan-tuntutan pekerjaan atau konflik-konflik keluarga.
5.      Gangguan-gangguan biomedis. individu-individu yang mengalami kesulitan kadang-kadang menderita gangguan-gangguan biomedis yang langsung menyebabkan atau menambah kesulitan-kesulitan psikologis. Para terapis membantu menghilangkan masalah-masalah ini pertama-tama dengan obat-obatan, dan kadang-kadang dengan terapi elektrokonvulsif dan/ atau psikobedah (psychosurgery). Meskipun kebanyakan terapis bisa bekerja dengan pasien-pasien dalam beberapa bidang ini, terapi penekanan berbeda menurut latar belakang pendidikan terapis. Para psikoanalis, misalnya, menitikberatkan pikiran-pikiran tak sadar dan emosi; para terapis kognitif memusatkan perhatian pada pola-pola pikiran dan kepercayaan yang salah; para terapis humanistik berusaha mengubah respons-respons emosional negatif dari pasien; para behavioris (sebagaimana terkandung dalam nama itu sendiri) memusatkan perhatian pada perubahan tingkah laku maladaptif; dan para terapis yang menggunakan teknik-teknis biomedis berusaha mengubah gangguan-gangguan biologis.


  • Unsur-unsur Psikoterapi 

            Masserman (dalam Mujib, 2002) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
·         Peran sosial (martabat)
·         Hubungan psikoterapeutik
·         Seorang terapis mendengarkan dengan penuh perhatian
·         Psikoterapi sebagai kesempatan untuk belajar kembali
·         Menurut Korchin kepercayaan terhadap tindakan terapis sangat dibutuhkan agar menghasilkan kondisi-kondisi untuk belajar kembali.
·         Motivasi, kepercayaan dan harapan
·         Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam psikoterapi
·         Hak
·         Retrospeksi
·         Reduksi
·         Rehabilitasi
  • Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

  1. Konseling pada umumnya menangani orang normal, sedangkan psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami gangguan psikologis.
  2.  Konseling lebih edukatif, sportif, berorientasi sadar. Dan berjangka pendek. Sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi sadar dan berjangka panjang.
  3. Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret. Sedangkan psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah serta berkembang terus.
  •        Psikoterapi Terhadap Mental Illness
·         Psychoanalysis & Psychodynamic
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939). Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.
·         Behavior Therapy
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Respon Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.
·         Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan Cognitive adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT)  dan sebagainya.
·         Humanistic Therapy
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.
·         Integrative / Holistic Therapy
Yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.

  •      Bentuk-bentuk Utama Psikoterapi
  1.     Terapi psikoanalitik : Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan resolusi dan integrasi fase-fase perkembangan psikoseksual yang berhasil. Perkembangan kepribadian yang gagal merupakan akibat dari resolusi sejumlah fase perkembangan psikoseksual yang tidak memadai. Id, ego dan superego membentuk dasar bagi struktur kepribadian. Kecemasan adalah akibat perepresian konfilk-konflik dasar. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Proses-proses tak dasar berkaitan erat dengan tingkah laku yang muncul sekarang.
  2.    Terapi Eksistensial-Humanistik : Pada dasarnya merupakan suatu pendekatan terhadap konseling dan terapi alih-alih suatu model teoretis tetap. Terapi eksistensial-humanistik menekankan kondisi-kondisi inti manusia. Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing individu. Kesadaran diri berkembang sejak bayi. Determinasi diri dan kecenderungan ke arah pertumbuhan adalah gagasan-gagasan sentral. Psikopatologi adalah akibat dari kegagalan dalam mengaktualkan potensi. Pembedaan-pembedaan dibuat antara “rasa bersalah eksistensial” dan “rasa bersalah neurotik” serta antara “kecemasan eksistenisal” dan “kecemasan neurotik”. Berfokus pada saat sekarang dan pada menjadi apa seseorang itu; yang berarti memiliki orientasi ke masa depan. Ia menekankan kesadaran diri sebelum bertindak. Ia adalah terapi eksperiensial.
  3.    Terapi Cleint-Centered : Klien memiliki kemampuan untuk menjadi sadar atas masalah-masalahnya serta cara-cara mengatasinya. Kepercayaan diletakkan pada kesanggupan klien untuk mengarahkan dirinya sendiri. Kesehantan mental adalah keselarasan antara diri ideal dan diri riel. Maladjustment adalah akibat dari kesenjangan antara diri ideal dan diri riel. Berfokus pada saat sekarang serta pada mengalami dan mengekspresikan perasaamn-perasaan. 
  4.     Terapi Gestalt : Berfokus pada apa dan bagaimana mengalami di sini-dan-sekarang untuk membantu klien agar menerima polaritas-polaritas dirinya. Konsep-konsep utama mencakup tanggung jawab pribadi, urusan yang tak selesai, penghindaran, mengalami dan menyadari saat sekarang. Ia adalah terapi eksperiensial yang menekankan perasaan-perasaan dan pengaruh-pengaruh urusan yang tak selesai terhadap perkembangan kepribadian sekarang. 
  5.   Analisis transaksional : Berfokus pada permainan-permainan yang dimainkan untuk menghindari keakraban dalam transaksi-transaksi. Kepribadian terdiri atas ego Orang Tua, ego Orang Dewasa, dan ego Anak. Klien diajari untuk menyadari ego mana yang berperan dalam transaksi-transaksi yang dijalankan. Permainan, penipuan, putusan-putusan dini, skenario kehidupan, dan internalisasi perintah-perintah adalah konsep-konsep utama.
  6.      Terapi tingkah laku : berfokus pada tingkah laku yang tampak, ketepatan dalam menyusun tujuan-tujuan treatmen, pengembangan rencana-rencana treatmen yang spesifik, dan evaluasi objektif atas hasil-hasil terapi. Terapi berlandaskan prinsip-prinsip teori belajar. Tingkah laku yang normal dipelajari melalui perkuatan dan peniruan. Tingkah laku yang abnormal adalah akibat dari belajar yang keliru. Ia menekankan tingkah laku sekarang dan hanya memberikan sedikit perhatian kepada sejarah masa lampau dan sumber-sumber gangguan.
  7.     Terapi Rasional-Emotif : Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosiomal nerakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional.  Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
  8.      Terapi Realitas : pendekatan ini menolak model medis dan konsep tentang penyakit mental. Berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan menolak masa lampau sebagai variabel utama. Pertimbangan nilai dan tanggung jawab moral ditekankan. Kesehatan mental sama dengan penerimaan atas tanggung jawab.
Daftar Pustaka :

Corey, Gerald. (2006). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

Chaplin, J. P.2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.

Morisson, Paul., Philip, Burnard. (2002). Caring and Communicating: Hubungan Interpersonal dalam Keperawatan Ed 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Semium, Yustinus (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit Percetakan Kanisius.




                                                      


Jumat, 17 Januari 2014

Ringkasan Psikologi Manajemen

di Januari 17, 2014 0 komentar
A.       Komunikasi


1.      Definisi Komunikasi
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui saluran (channel) tertentu yang merupakan bentuk interaksi manusia bertujuan untuk menyamakan persepsi dan menimbulkan efek tertentu. Elemen dalam komunikasi adalah sumber, pesan, saluran, komunikan atau audience.
2.      Dimensi Komunikasi
Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan :
a.       Dimensi isi disandi secara verbal; dimensi hubungan disandi secara non verbal.
b.      Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan
c.       Dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu dan bagaimana pesan tersebut ditafsirkan.
  Contoh: Kalimat “aku benci kamu” yang diucapkan dengan nada menggoda mungkin sekali justru berarti sebaliknya. Atau seorang gadis yang mengatakan “ih jahat kamu” kepada teman prianya seraya mencubit tangan pemuda tersebut.

B.        Leadership

1.      Definisi Kepemimpinan
 Kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok

2.   Teori Kepemimpinan
a.       Teori X             : Menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
b.      Teori Y             : Memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya.

C.       Motivasi

1.      Definisi Motivasi
Motivasi adalah perubahan energi diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
2.      Teori-teori Motivasi
a.       Teori Drive                   : diuraikan sebagai “teori-teori dorongan tentang motivasi” perilaku didorong kearah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang
b.      Teori Harapan               : Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan.
c.       Teori Tujuan                 : mencoba menjelaskan hubungan-hubungan antara niat atau intentions (tujuan-tujuan dengan prilaku), pendapat in digunakan oleh Locke.
d.      Hirakhi Kebutuhan       : Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok.

D.       Mengendalikan Fungsi Manajemen

1.      Definisi Fungsi Manajemen
Pengendalian (control) merupakan bagian dari fungsi manajemen. Fungsi manajemen meliputi: Planning, Organizing, Staffing, Leading, and Controlling (Leslie W.Rue and Lloyd L. Byars, 2000).

2.      Langkah-langkah Dasar dalam Proses Pengendalian
Mochler dalam Stoner James, A. F. (1988) menetapkan empat langkah dalam proses pengendalian, yaitu sebagai berikut:
a.       Menentukan standar dan metode yang digunakan untuk mengukur prestasi.
b.      Mengukur prestasi kerja.
c.        Menganalisis apakah prestasi kerja memenuhi syarat.
d.       Mengambil tindakan



3.      Jenis-jenis Pengendalian Manajemen
a.       Pengendalian Pencegahan  :Untuk mencegah terjadinya suatu kesalahan.
b.      Pengendalian Deteksi         :Untuk mendeteksi suatu kesalahan yang telah terjadi.
c.       Pengendalian Koreksi         :Melakukan koreksi masalah-masalah yang teridentifikasi oleh pengendalian deteksi.
d.      Pengendalian Pengarahan   :Pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan atau ketentuan yang berlaku.
e.       Pengendalian Pengganti     :untuk memperkuat pengendalian karena terabaikannya suatu aktivitas pengendalian.

4.      Proses Pengendalian Manajemen
a.       Pemrograman
b.      Penggangaran
c.       Operasi dan akutansi
d.      Laporan dan analisis




Sabtu, 23 November 2013

P-Chan_Part 1

di November 23, 2013 0 komentar
“Warm Winter”
***
Dua kopernya dan tiga milik orang tuanya telah masuk ke dalam bagasi van. Seperti yang telah dikatakan ayahnya, sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah lama mereka. Rumah tradisional di salah satu sudut Kyoto. Jujur, Ia bahkan tidak dapat mengingat bagaimana bentuk rumah itu sekarang. Entah sudah lapuk, atau bahkan telah rata oleh tanah. Rumah tradiaional Jepang terbuat dari kayu, bukan?
Ia tidak menyalahkan kedua orang tuanya. Tidak. Karena tidak ada yang dapat ia tuduhkan pada mereka. Bukan karena betapa sering Ayahnya dipindah-kerjakan ke berbagai negara. Bukan juga akibat tempat bersekolah yang selalu berganti nama setiap tahun ajaran barunya. Bahkan bukan karena berita pemecatan yang datang tiba-tiba saat Ia baru pulang bermain di Melbourn. Tidak ada yang dapat Ia salahkan.
"Dai-kun," panggil seorang wanita berumur hampir empat puluh. "Kita harus bergegas. Naiklah."
Setelah mengangguk kecil, pemuda itu melangkah masuk ke dalam van hitam. Ia melihat ayahnya telah duduk di samping pengemudi bermata sipit. Ini bukan pertama kalinya Ia melihat pria itu. Ayahnya pernah menunjukkan sebuah foto saat mereka sedang bersantai di balkon sambil menikmati pemandangan berkabut London. Namanya Hayashi Kenichiro. Sahabat Ayahnya, sekaligus tetangga mereka dulu, dan sekarang.
"Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu, Ken," ujar Tuan Takahashi memulai.
Kenichiro mengibas-kibaskan tangannya. "Kau ini! Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Jadi tolong jangan merasa sungkan padaku."
Detik berikutnya, kedua sahabat lama itu tenggelam dalam tawa renyah. Nyonya Takahashi menggeser tubuhnya untuk masuk ke dalam van dan duduk nyaman di sebelah putra tunggalnya. Mendengar tawa suaminya merupakan hal terindah dalam satu minggu ini. Karena sejak berita pemecatan itu, suaminya tidak pernah lagi menyempatkan diri untuk tersenyum. Apa lagi untuk tertawa.
"Dai-kun, daijoubu desuka?" (daijoubu desuka : kau baik-baik saja?)
"Daijoubudesu," jawab pemuda itu pelan. Terlihat jelas tidak ada satu semangat pun dalam dirinya.(Daijoubudesu : baik)
"Takahashi Daisuke, dengarkan Okaasan." Perintah halus itu membuat pemuda di sampingnya menoleh. (Okaasan : Ibu)
"Kau adalah pemuda terpintar yang pernah Okaasan temui. Kau mampu mengejar segala ketertinggalanmu dan dengan mudah menjadi peringkat pertama. Wajahmu adalah anugerah terbesar yang kau miliki. Pasti kau akan menemukan gadismu di sini. Jadi kumohon, jangan terbebani dengan masalah keluarga."
Tidak ada jawaban dari Daisuke, pemuda itu. Memang tidak ada yang dapat Ia jawab. Keyakinannya pada perkataan Ibunya hampir mendekati nol. Terutama tentang gadis. Ya. Pergaulan di beberapa negara yang Ia kunjungi memang tergolong bebas. Bahkan setiap tahun atau setiap Ayahnya dipindah-kerjakan, sesering itulah Ia menjalin hubungan. Dengan gadis yang berbeda pula. Jadi kecil kemungkinan untuknya diterima dalam tradisi kuno, seorang pria hanya memiliki seorang wanita.
"Dai-kun."
"Mereka tidak akan menerimaku, Okaasan. Aku ini playboy. Lagi pula aku tidak akan membiarkan diriku merusak gadis-gadis di sini."
Daisuke memalingkan wajah, sedang tidak ingin membahas kata 'gadis'. Ia menatap jendela van yang mulai berembun. Salju yang tiba-tiba turun memang sedikit menjengkelkan. Terutama karena hawa dingin menjadi lebih dingin dari biasanya. Dan Ia membenci saat tubuhnya tidak dapat berkutik karena tebal mantel yang Ia pakai. Itu sebabnya Daisuke membencinya. Musim salju tidak akan pernah hangat.
Nyonya Takahashi mengusap lembut pipi anaknya. "Lihatlah dirimu, Dai-kun. Mereka, gadis-gadis itu, pantas mencintaimu. Kau menjelek-jelekkan dirimu sendiri untuk melindungi mereka. Jadi siapa yang dapat menahan pesonamu itu?"
Kedua bola mata Daisuke masih terfokus pada jalanan di luar yang mulai tertutup salju. Jika melihat berita ramalan cuaca yang Ia tonton saat menunggu kedatangan Hayashi Kenichiro, benar, maka ini adalah salju pertama di Kyoto.
"Ah! Turun salju rupanya!" pekik Nyonya Takahashi senang. Wanita itu memegang tangan Daisuke. Meminta sedikit perhatian dari anak laki-lakinya itu. "Apa kau tahu satu cerita tentang salju pertama?"
Daisuke menoleh. "Hai," jawabnya singkat. (Hai : iya)
"Saat itu Otousan benar-benar mempercayai mitos palsu yang dikatakan temannya. Gadis pertama yang kau lihat dikala salju pertama turun adalah jodohmu. Begitu bunyi mitos itu. Tetapi mitos itu benar-benar terjadi." (Otousan : ayah)
Daisuke kembali menghadap jendela. Ia sudah pernah mendengar asal-usul dirinya berkali-kali. Mitos, pohon sakura, syal biru laut, juga sarung tangan rajutan berwarna merah. Ya. Bagaimana bisa kehidupan percintaan kedua orang tuanya sangat mudah dan menyenangkan? Dirinya sendiri harus rela putus berkali-kali dan belum menemukan potongan puzzle-nya.
"... di bawah pohon Sakura yang tertutup salju. Kami bertemu karena syal biru lautku terbang."
Bola mata Daisuke melebar. Seorang gadis sedang berlarian di trotoar. Syal biru laut bergaris yang melilit leher gadis itu menjadi pusat perhatiannya. Warna biru laut yang sama dengan syal favorit ibunya. Bahkan modelnya hampir mirip. Ia lantas bertanya dalam hati. Tidak ada hal sama yang terjadi dua kali, bukan?
Saat van mulai mendahului gadis itu, Daisuke mengubah pemikirannya. Dari kejauhan, pemuda itu dapat melihat eloknya paras gadis syal biru itu. Semburat kemerahan di hidung dan pipi chubby-nya sungguh menggemaskan. Pesona khas Asia yang tidak Ia lihat dan dapatkan dari semua kekasihnya dulu.
"... mulai berkencan di hari berikutnya. Otousan  menyatakan cinta hari itu juga. Ah! Aku sangat menyukai bagian itu! Bagaimana menurutmu, Dai-kun? Tidakkah kau ingin merasakan cinta semanis itu?"
Anggukan pelan Daisuke menjawabnya. Benar. Tiba-tiba pemuda itu berharap pertemuan romantis Ayah dan Ibunya dapat terulang pada dirinya. Bahkan alur cerita hingga penutup, Daisuke menginginkan kesamaan. Antara dirinya dan gadis bersyal biru itu.
"Ken-san! Hentikan mobilnya!" teriak Daisuke.
"Oh, hai," jawab Kenichiro ragu.
Setelah van berhenti, Daisuke keluar dan berlari menyusuri trotoar. Jika pandangannya beberapa menit yang lalu, benar, gadis itu masuk ke dalam toko roti ini. Tanpa membuang banyak waktu, Ia membuka pintu toko. Bunyi nyaring lonceng dan harum roti yang menyeruak, menyambutnya. Manik kecoklatan miliknya tidak menemukan gadis itu.
"Ohayou gozaimasu! Ada yang bis-" (Ohayou gozaimasu : selamat pagi)
"Apa kau melihat gadis bersyal biru masuk ke sini?"
Pelayan itu menggeleng. "Iie. Saya tidak nelihatnya." (Iie : tidak)
"Kalau begitu, terima kasih."
Daisuke keluar dan menutup pintu itu dengan lemas. Sepertinya Tuhan telah memutuskan bahwa jalan hidupnya berbeda dengan kedua orang tuanya. Ia mendesah. Tangannya terangkat dan menengadah ke atas. Menyambut butiran putih yang jatuh perlahan. Salju pertama di Kyoto, Ia bertemu dengan seorang gadis. Jodohnya? Ya. Tentu jika Tuhan mengijinkan mereka bertemu lagi.
"Dai-kun! Apa yang kau lakukan?! Cepat masuk ke dalam van! Ugh! Dingin sekali!"
***
“Dai-kun! Apa yang kau pikirkan?” Nyonya Takahashi tampak gusar melihat anak laki-lakinya yang tak kunjung merespon. “Masih memikirkan toko roti itu? Oh, ayolah, Dai-kun. Kita sudah sampai.” Wanita itu hanya bisa mendengus kesal dan melirik suaminya sebentar seperti meminta bantuan.
“Dai-kun! Cepat bantu turunkan barang!” perintah Tuan Takahashi.
Mau tidak mau, Daisuke menggeret koper dengan malas. Ia masih memikirikan gadis bersyal biru yang melintas di jalanan dekat toko roti itu. Dan udara dingin menyeruak masuk ke dalam tubuhnya secara tiba-tiba semakin membuatnya jengkel. Ia mengutuk. Tidak adakah kesempatan untuk menikmati sedikit, sedikit saja, hari tanpa merasakan tulang-tulang yang menggigil?
Rumah yang sudah sangat lama tidak Ia kunjungi ini masih bisa dibilang layak untuk ditempati. Setidaknya, kayu-kayu ini masih kokoh berdiri. Daisuke mengedarkan pandangannya. Kamar. Ia mencari letak kamarnya. Apakah ada perubahan? Sepertinya tidak mungkin. Hanya sarang laba-laba dan debu-debu yang menempel di setiap ruangan yang Ia rasa sebagai buah kealpaan pemilik rumah.
Daisuke menggeser pintu yang Ia yakini sebagai kamarnya. Gotcha! Masih terlihat sama, hanya jumlah debu saja yang membedakan. Pemuda itu mendesah saat melihat bentuk kamarnya. Dinding-dinding tipis, nyaris tidak bermateri. Tidak aman, memang. Dan pasti sangat dingin di musim dingin seperti sekarang ini.
Diletakkannya koper dengan ukuran sedang ke salah satu sudut lemari multifungsi. Terlihat sebuah kasur lipat beserta selimut yang cukup tebal bergulung di dalamnya. Di saf atas terdapat beberapa pakaian yang terbungkus rapi di dalam kardus. Pakaian lamanya.
Daisuke bergegas merapikan kamar dan menyusun beberapa perabotan yang mungkin masih bisa Ia gunakan. Memang tidak memerlukan waktu yang lama jika hanya membereskan kamar kecil berukuran 3x3 itu. Tetapi tetap saja. Hari ini akan jadi hari yang sangat melelahkan.
“Dai-kun! Jika kau sudah selesai di sana, bisa kau kemari?!”
Daisuke mendengus. “Hai!”
Nyonya Takahashi merapikan tatanan meja makan. Ini memang sudah lewat dari jam makan siang. Tapi Tuan Takahashi masih saja sibuk merapikan halaman luar yang sudah tertutup salju setinggi mata kaki. Sehingga, sebagai istri yang baik, Ia harus menyajikan semua makanan ini sebelum suaminya selesai.
“Oh, Dai-kun,” serunya terkejut saat melihat Daisuke yang berdiri diam di depan pintu kamarnya. “Sudah berapa lama kau berdiri di sana?”
Daisuke tidak menggubris perkatakan Ibunya. Ia masih terlalu sibuk melihat sekeliling rumah berbahan kayu itu.
“Dai-kun! Ada apa dengan pikiranmu? Mengapa kau sering melamun belakangan ini?” Tidak mendapat jawaban dari anak tunggalnya, membuat Nyonya Takahashi mendesah. “Sekarang bisakah kau fokus sebentar? Cepat panggilkan Ayahmu. Makan siang sudah siap.”
***
Berulang kali ia merapatkan mantel merah tebalnya, udara kali ini begitu tak bersahabat baginya. Butiran-butiran putih itu kembali turun, dan tak jarang mengenai pipinya yang mulai memerah. Ia menjejalkan tangannya kedalam saku mantelnya, sedangkan kedua mata bulatnya berkeliling mengawasi tiap-tiap orang yang bejalan di sekitarnya. Ia mendengus kesal, membuat mulutnya mengeluarkan asap putih.
Bibir mungilnya menggerutu tak jelas, setiap kali ada orang yang tak sengaja menabraknya. Apa suasana di Nishiki Market –pertokoan di kyoto- selalu penuh sesak seperti ini, bahkan saat musim dingin itu tiba? Ah, sial! Ia benar-benar tak suka berada di tempat keramaian seperti ini. Kalau saja bukan karena Ibunya yang memaksa untuk menemani, tentu Ia akan lebih memilih merikuk di bawah selimut tebalnya!
“Oca-chan jangan menatap mereka seperti itu! Tidak sopan!” Wanita berumur sekitar tiga puluhan itu nampak kesal, melihat kelakuan putrinya.
Oca menatap Ibunya acuh. “Okaasan  tahu sendiri aku paling tak suka berada di tempat seperti ini!” umpatnya pelan.
“Biasakan dirimu, Oca-chan! Sampai kapan kau akan mengunci dirimu rapat-rapat?!” Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya bahwa putrinya sama sekali belum merubah pandangannya tetang orang lain. “Tidak semua orang itu jahat, Oca-chan!” Oca mendengus pelan, menanggapi perkataan ibunya itu.
“Aku tak pernah mengatakan bahwa semua orang itu jahat! Aku hanya mewaspadainya! Bukankah kejahatan itu ada dimana-mana?! Memangnya aku salah?!” ujarnya pelan.
Ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Menyusuri tiap-tiap sudut Nishiki Market. Menurut Oca, tak ada yang salah dari dirinya. Ia hanya tak mau ada orang jahat yang ingin mencelakan dirinya! Ya hanya itu saja! Tak salah, bukan?!
“Kau ini terlalu banyak menonton berita kriminal, Oca-chan!”
Lagi-lagi perkataan itu yang ia dengar. Entah sudah beberapa kali Nyonya Sasaki berkata seperti itu untuknya. Oca tak menjawab perkataan ibunya. Bukannya tak bisa membalasnya, hanya saja, ia tak mau perdebatan ini bertabah panjang. Perdebatan adalah hal yang paling ia benci.
“Oca-chan kemari! Bantu Okaasan memilihkan hadiah untuk Otousan!” panggilan dari ibunya itu mampu membuat Oca menghentikan aktifitasnya. Ia mengangguk beberapa kali, lalu berjalan mendekati ibunya, dan mulai memilih beberapa barang yang ia rasa cocok untuk di berikan kepada ayahnya nanti.
Okaasan, sepertinya ini cocok untuk Otousan!” ujar Oca.
Ia menunjukan setelan Montsuki dengan Hakama dan Haori yang didominasi warna hitam kepada ibunya. Nyonya Sasaki itu nampak mengamati, memperhatikan secara lebih detail dan seksama. Beberapa menit kemudian ia mengangguk, menjetujui saran dari putrinya.
“Kau memiliki selera yang bagus Sasaki Oca!” pujinya, lalu mengacak-acak poni Oca pelan.
***
"Haruskah aku ikut, Otousan?"
Pria yang berdiri di depan cermin itu berhenti melakukan kegiatannya. Merapikan dasi kupu-kupu. Ia lantas berbalik dan menatap anak laki-lakinya, penuh rasa syukur. Dengan keadaan mereka sekarang, Ia tidak pernah mendengar ucapan protes dari anaknya. Ya. Terakhir kali Ia mendengar kata protes adalah saat mereka masih berada di bandar udara Adelaide satu minggu yang lalu.
"Entahlah, Dai-kun. Ini minggu pertama Otousan bekerja."
Ada raut kecewa dari pemuda tampan itu. Rambut yang baru saja Ia sisir rapi, kembali berantakan. Ini salah satu kebiasaannya ketika sedang kecewa. Mengacak-acak rambutnya sendiri.
Tetapi kali ini Ia tidak boleh merajuk seperti biasanya. Kondisi ekonomi keluarganya memang masih tercukupi. Hanya saja, Tuan Takahashi, Ayahnya, tidak suka berpangku tangan lebih lama. Begitu juga dengan dirinya. Ia ingin meringankan pekerjaan ayahnya untuk hari ini. Karena menjadi pelayan disebuah acara tidak sesusah menjadi sopir pribadi, bukan?
"Otousan, aku hanya ingin membantu. Lagi pula ini hanya menjadi pelayan. Aku pernah bekerja sebagai pelayan restoran saat kita tinggal di Inggris dulu," tutur Daisuke, mencoba meyakinkan Ayahnya.
Tuan Takahashi mendesah. "Dai-kun. Acara itu memang besar dan ada banyak tamu di sana."
"Itu sebabnya Otousan diminta menjadi pelayan juga, kan? Itu artinya mereka membutuhkan tenaga ekstra. Lagi pula ini musim dingin. Akan lebih banyak pekerja malas yang berkeliaran dibandingkan pekerja yang tekun seperti Otousan. Juga aku."
Tuan Takahashi tersenyum melihat reaksi putranya. Mau tidak mau, Ia menyetujui pendapat Daisuke. Bukan hanya karena pendapat yang masuk akal, permintaan terakhir atasannya kemarin menjadi sebuah pertimbangan lain. Harus ada setidaknya dua puluh pelayan di acara itu. Dari jumlah pelayan yang ada jika ditambah dengan dirinya, maka masih kurang tiga.
"Otousan, ijinkan aku ikut ke acara itu."
Tuan Takahashi menjawab dengan satu anggukan kecil. "Hai. Tetapi jangan sampai membuat masalah, Dai-kun. Wakarimasuka?"(Wakarimasuka : mengerti?)
Dengan semangat, Daisuke menjawab. "Wakarimasu!"(Wakarimasu : mengerti)
***
Gadis itu merapatkan mantel peach miliknya. Hal ini memang gila. Tidak pernah terbayang dibenaknya bahwa Ia akan menghadiri sebuah pesta di saat salju meluncur deras. Jika bukan karena paksaan ibunya, tubuhnya tidak perlu menggigil seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur berdiri di depan pintu besar kediaman Ayahnya.
"Oca-chan, ayo masuk," ajak ibunya dengan suara lembut.
Seperti yang sudah Ia duga sebelumnya, selelah pintu besar itu terbuka, ada banyak tamu yang memenuhi ruangan. Pakaian pesta yang mereka kenakan, khususnya untuk tamu wanita, tergolong minim. Mereka seolah tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Lepaskan mantelmu," tutur Nyonya Sasaki yang telah menanggalkan mantel hitamnya lebih dulu.
Oca menggeleng kuat. "Okaasan. Aku tidak suka dingin. Bolehkah aku memakai mantelku?"
Ada raut tak suka dari Nyonya Sasaki. Tetapi wanita itu tidak memprotes permintaan anaknya. "Tetapi lepaskan syal biru itu."
"Hai."
Oca memberikan syal biru itu kepada seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Setelah itu, Ia lantas menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu melenggak ke dalam ruang pesta luas dengan dominasi warna emas. Dengan sedikit gugup, gadis itu merapatkan dekapannya. Membuat sedikit jarak dari pengunjung pesta adalah hal yang harus Ia lakukan. Tentu untuk melindungi dirinya sendiri.
"Oca-chan, kemarilah!" seru Ibunya yang kini sudah berada di tengah ruangan.
Masih berniat melindungi dirinya, Oca mengendap-endap. Pelan, tetapi pasti. Setidaknya dengan cara ini Ia dapat berada di samping Ibunya dengan selamat. Setelah melewati dua pemuda, empat gadis cantik bergaun mewah, dan dua orang pelayan, Oca melingkarkan tangan ke lengan kiri Ibunya. Meminta perlindungan. Sayang, Nyonya Sasaki tidak mengerti.
"Lihat! Itu ayahmu!"
Bola mata gadis itu mengikuti telunjuk Ibunya. Telunjuk itu mengarah ke sebuah panggung yang tidak seberapa tinggi di sebelah para pemain musik yang tengah melantunkan musik jazz. Pria yang telah melewati lebih dari empat puluh tahun kehidupan itu tampak cerah. Wajahnya yang memiliki kumis tipis itu terhiasi senyum bahagia. Ya. Jabatan Mentri yang baru saja diraihnya tentu menjadi alasan pesta ini terselenggara.
"Okaasan tidak memberi selamat pada Otousan?"
Pertanyaan yang bodoh, memang. Tetapi pertanyaan itu sama bodohnya dengan perbuatan mereka sekarang. Datang ke pesta di tengah musim dingin yang menusuk. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan terjadi di pesta ini. Ia tidak akan mungkin berada dalam radius satu meter dari ayahnya. Apa lagi memberinya selamat secara langsung. Jika terjadi, Ibunya tidak akan selamat untuk dua hari ke depan.
"Iie. Kita lihat saja dari kejauhan," ujar Nyonya Sasaki pelan. Wajah sendu itu kembali. Menguasai diri dan hati wanita itu. Entah sudah berapa lama Ia merasakan perih ini dan sudah berapa kali Ia berhasil bertahan. Benar. Kini, Ia harus melakukan hal yang seperti biasa. Menenangkan diri, kemudian kembali bersikap normal. "Toire he ikimasu." (Toire he ikimasu : pergi kekamar mandi)
Mau tidak mau, Oca merelakan Ibunya pergi. Toh ini hal yang biasa terjadi. Meninggalkan Oca untuk sekedar menyegarkan pikiran di kamar mandi. Hanya saja, ada sedikit perbedaan di sini. Oh, tidak. Ada banyak. Dan hal itu membuatnya kembali merapatkan kedua tangan ke tubuhnya. Terlalu banyak orang.
"Anda ingin minuman, Nona?"
Gadis itu terperanjat. Seorang pemuda berbalut seragam hitam-putih khas para pelayan tengah menawarkan nampan berisi beberapa minuman kepadanya. Mata elang pemuda itu menarik perhatian Oca sebentar. Tetapi baru beberapa detik, Oca melepaskan pendangannya, berpaling, lalu berlari kecil meninggalkan pemuda yang mematung sambil menajamkan sorot mata.
"Matte!" (Matte : tunggu)
Dengan sembarangan, pemuda itu meletakkan nampan ke meja terdekat. Tanpa memandang semua tugas yang tengah diembannya, Ia berlari. Berkelit di antara para tamu dan  dua kali hampir menabrak meja. Ini demi gadis itu. Gadis yang memakai gaun pink pucat dengan hiasan pita besar di belakang.
"Matte!" teriaknya lagi.
Sekarang, acara kejar mengejar itu telah memiliki banyak penonton. Tetapi pemuda yang berhasil merapatkan jarak dengan gadis yang dikejarnya, tidak peduli. Kali ini Ia tidak akan membuang kesempatan. Tidak. Gadis itu berada di depannya dan tentu saja Ia harus meraihnya. Bukan hanya untuk membuktikan ucapan Ibunya. Pemuda itu juga ingin melihat paras cantik gadis itu sekali lagi.
"Gotcha!" serunya saat berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu.
Pemuda itu mengatur napas. Getaran hebat yang menjalar di seluruh tubuh gadis itu berusaha Ia redam dengan genggamannya yang menguat. Cara itu berhasil. Getaran itu makin tidak terasa dan gadis yang Ia temui saat salju pertama di Kyoto itu menoleh. Menampakkan wajah kebingungannya.
Ia adalah manusia bodoh jika tidak terpesona dengan mata bulat gadis itu. Pipi chubby yang merona dan bibir tipisnya, terlihat sangat manis. Sungguh kecantikan khas Asia yang menyilaukan. Tidak perlu ditanyakan lagi. Ia menyukainya. Sangat menyukainya.
"Daisuki," ucapnya lantang dan membuat manik kecoklatan milik gadis di depannya membulat sempurna.
***




 

A N L Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea