Sabtu, 23 November 2013

P-Chan_Part 1

di November 23, 2013
“Warm Winter”
***
Dua kopernya dan tiga milik orang tuanya telah masuk ke dalam bagasi van. Seperti yang telah dikatakan ayahnya, sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah lama mereka. Rumah tradisional di salah satu sudut Kyoto. Jujur, Ia bahkan tidak dapat mengingat bagaimana bentuk rumah itu sekarang. Entah sudah lapuk, atau bahkan telah rata oleh tanah. Rumah tradiaional Jepang terbuat dari kayu, bukan?
Ia tidak menyalahkan kedua orang tuanya. Tidak. Karena tidak ada yang dapat ia tuduhkan pada mereka. Bukan karena betapa sering Ayahnya dipindah-kerjakan ke berbagai negara. Bukan juga akibat tempat bersekolah yang selalu berganti nama setiap tahun ajaran barunya. Bahkan bukan karena berita pemecatan yang datang tiba-tiba saat Ia baru pulang bermain di Melbourn. Tidak ada yang dapat Ia salahkan.
"Dai-kun," panggil seorang wanita berumur hampir empat puluh. "Kita harus bergegas. Naiklah."
Setelah mengangguk kecil, pemuda itu melangkah masuk ke dalam van hitam. Ia melihat ayahnya telah duduk di samping pengemudi bermata sipit. Ini bukan pertama kalinya Ia melihat pria itu. Ayahnya pernah menunjukkan sebuah foto saat mereka sedang bersantai di balkon sambil menikmati pemandangan berkabut London. Namanya Hayashi Kenichiro. Sahabat Ayahnya, sekaligus tetangga mereka dulu, dan sekarang.
"Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu, Ken," ujar Tuan Takahashi memulai.
Kenichiro mengibas-kibaskan tangannya. "Kau ini! Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Jadi tolong jangan merasa sungkan padaku."
Detik berikutnya, kedua sahabat lama itu tenggelam dalam tawa renyah. Nyonya Takahashi menggeser tubuhnya untuk masuk ke dalam van dan duduk nyaman di sebelah putra tunggalnya. Mendengar tawa suaminya merupakan hal terindah dalam satu minggu ini. Karena sejak berita pemecatan itu, suaminya tidak pernah lagi menyempatkan diri untuk tersenyum. Apa lagi untuk tertawa.
"Dai-kun, daijoubu desuka?" (daijoubu desuka : kau baik-baik saja?)
"Daijoubudesu," jawab pemuda itu pelan. Terlihat jelas tidak ada satu semangat pun dalam dirinya.(Daijoubudesu : baik)
"Takahashi Daisuke, dengarkan Okaasan." Perintah halus itu membuat pemuda di sampingnya menoleh. (Okaasan : Ibu)
"Kau adalah pemuda terpintar yang pernah Okaasan temui. Kau mampu mengejar segala ketertinggalanmu dan dengan mudah menjadi peringkat pertama. Wajahmu adalah anugerah terbesar yang kau miliki. Pasti kau akan menemukan gadismu di sini. Jadi kumohon, jangan terbebani dengan masalah keluarga."
Tidak ada jawaban dari Daisuke, pemuda itu. Memang tidak ada yang dapat Ia jawab. Keyakinannya pada perkataan Ibunya hampir mendekati nol. Terutama tentang gadis. Ya. Pergaulan di beberapa negara yang Ia kunjungi memang tergolong bebas. Bahkan setiap tahun atau setiap Ayahnya dipindah-kerjakan, sesering itulah Ia menjalin hubungan. Dengan gadis yang berbeda pula. Jadi kecil kemungkinan untuknya diterima dalam tradisi kuno, seorang pria hanya memiliki seorang wanita.
"Dai-kun."
"Mereka tidak akan menerimaku, Okaasan. Aku ini playboy. Lagi pula aku tidak akan membiarkan diriku merusak gadis-gadis di sini."
Daisuke memalingkan wajah, sedang tidak ingin membahas kata 'gadis'. Ia menatap jendela van yang mulai berembun. Salju yang tiba-tiba turun memang sedikit menjengkelkan. Terutama karena hawa dingin menjadi lebih dingin dari biasanya. Dan Ia membenci saat tubuhnya tidak dapat berkutik karena tebal mantel yang Ia pakai. Itu sebabnya Daisuke membencinya. Musim salju tidak akan pernah hangat.
Nyonya Takahashi mengusap lembut pipi anaknya. "Lihatlah dirimu, Dai-kun. Mereka, gadis-gadis itu, pantas mencintaimu. Kau menjelek-jelekkan dirimu sendiri untuk melindungi mereka. Jadi siapa yang dapat menahan pesonamu itu?"
Kedua bola mata Daisuke masih terfokus pada jalanan di luar yang mulai tertutup salju. Jika melihat berita ramalan cuaca yang Ia tonton saat menunggu kedatangan Hayashi Kenichiro, benar, maka ini adalah salju pertama di Kyoto.
"Ah! Turun salju rupanya!" pekik Nyonya Takahashi senang. Wanita itu memegang tangan Daisuke. Meminta sedikit perhatian dari anak laki-lakinya itu. "Apa kau tahu satu cerita tentang salju pertama?"
Daisuke menoleh. "Hai," jawabnya singkat. (Hai : iya)
"Saat itu Otousan benar-benar mempercayai mitos palsu yang dikatakan temannya. Gadis pertama yang kau lihat dikala salju pertama turun adalah jodohmu. Begitu bunyi mitos itu. Tetapi mitos itu benar-benar terjadi." (Otousan : ayah)
Daisuke kembali menghadap jendela. Ia sudah pernah mendengar asal-usul dirinya berkali-kali. Mitos, pohon sakura, syal biru laut, juga sarung tangan rajutan berwarna merah. Ya. Bagaimana bisa kehidupan percintaan kedua orang tuanya sangat mudah dan menyenangkan? Dirinya sendiri harus rela putus berkali-kali dan belum menemukan potongan puzzle-nya.
"... di bawah pohon Sakura yang tertutup salju. Kami bertemu karena syal biru lautku terbang."
Bola mata Daisuke melebar. Seorang gadis sedang berlarian di trotoar. Syal biru laut bergaris yang melilit leher gadis itu menjadi pusat perhatiannya. Warna biru laut yang sama dengan syal favorit ibunya. Bahkan modelnya hampir mirip. Ia lantas bertanya dalam hati. Tidak ada hal sama yang terjadi dua kali, bukan?
Saat van mulai mendahului gadis itu, Daisuke mengubah pemikirannya. Dari kejauhan, pemuda itu dapat melihat eloknya paras gadis syal biru itu. Semburat kemerahan di hidung dan pipi chubby-nya sungguh menggemaskan. Pesona khas Asia yang tidak Ia lihat dan dapatkan dari semua kekasihnya dulu.
"... mulai berkencan di hari berikutnya. Otousan  menyatakan cinta hari itu juga. Ah! Aku sangat menyukai bagian itu! Bagaimana menurutmu, Dai-kun? Tidakkah kau ingin merasakan cinta semanis itu?"
Anggukan pelan Daisuke menjawabnya. Benar. Tiba-tiba pemuda itu berharap pertemuan romantis Ayah dan Ibunya dapat terulang pada dirinya. Bahkan alur cerita hingga penutup, Daisuke menginginkan kesamaan. Antara dirinya dan gadis bersyal biru itu.
"Ken-san! Hentikan mobilnya!" teriak Daisuke.
"Oh, hai," jawab Kenichiro ragu.
Setelah van berhenti, Daisuke keluar dan berlari menyusuri trotoar. Jika pandangannya beberapa menit yang lalu, benar, gadis itu masuk ke dalam toko roti ini. Tanpa membuang banyak waktu, Ia membuka pintu toko. Bunyi nyaring lonceng dan harum roti yang menyeruak, menyambutnya. Manik kecoklatan miliknya tidak menemukan gadis itu.
"Ohayou gozaimasu! Ada yang bis-" (Ohayou gozaimasu : selamat pagi)
"Apa kau melihat gadis bersyal biru masuk ke sini?"
Pelayan itu menggeleng. "Iie. Saya tidak nelihatnya." (Iie : tidak)
"Kalau begitu, terima kasih."
Daisuke keluar dan menutup pintu itu dengan lemas. Sepertinya Tuhan telah memutuskan bahwa jalan hidupnya berbeda dengan kedua orang tuanya. Ia mendesah. Tangannya terangkat dan menengadah ke atas. Menyambut butiran putih yang jatuh perlahan. Salju pertama di Kyoto, Ia bertemu dengan seorang gadis. Jodohnya? Ya. Tentu jika Tuhan mengijinkan mereka bertemu lagi.
"Dai-kun! Apa yang kau lakukan?! Cepat masuk ke dalam van! Ugh! Dingin sekali!"
***
“Dai-kun! Apa yang kau pikirkan?” Nyonya Takahashi tampak gusar melihat anak laki-lakinya yang tak kunjung merespon. “Masih memikirkan toko roti itu? Oh, ayolah, Dai-kun. Kita sudah sampai.” Wanita itu hanya bisa mendengus kesal dan melirik suaminya sebentar seperti meminta bantuan.
“Dai-kun! Cepat bantu turunkan barang!” perintah Tuan Takahashi.
Mau tidak mau, Daisuke menggeret koper dengan malas. Ia masih memikirikan gadis bersyal biru yang melintas di jalanan dekat toko roti itu. Dan udara dingin menyeruak masuk ke dalam tubuhnya secara tiba-tiba semakin membuatnya jengkel. Ia mengutuk. Tidak adakah kesempatan untuk menikmati sedikit, sedikit saja, hari tanpa merasakan tulang-tulang yang menggigil?
Rumah yang sudah sangat lama tidak Ia kunjungi ini masih bisa dibilang layak untuk ditempati. Setidaknya, kayu-kayu ini masih kokoh berdiri. Daisuke mengedarkan pandangannya. Kamar. Ia mencari letak kamarnya. Apakah ada perubahan? Sepertinya tidak mungkin. Hanya sarang laba-laba dan debu-debu yang menempel di setiap ruangan yang Ia rasa sebagai buah kealpaan pemilik rumah.
Daisuke menggeser pintu yang Ia yakini sebagai kamarnya. Gotcha! Masih terlihat sama, hanya jumlah debu saja yang membedakan. Pemuda itu mendesah saat melihat bentuk kamarnya. Dinding-dinding tipis, nyaris tidak bermateri. Tidak aman, memang. Dan pasti sangat dingin di musim dingin seperti sekarang ini.
Diletakkannya koper dengan ukuran sedang ke salah satu sudut lemari multifungsi. Terlihat sebuah kasur lipat beserta selimut yang cukup tebal bergulung di dalamnya. Di saf atas terdapat beberapa pakaian yang terbungkus rapi di dalam kardus. Pakaian lamanya.
Daisuke bergegas merapikan kamar dan menyusun beberapa perabotan yang mungkin masih bisa Ia gunakan. Memang tidak memerlukan waktu yang lama jika hanya membereskan kamar kecil berukuran 3x3 itu. Tetapi tetap saja. Hari ini akan jadi hari yang sangat melelahkan.
“Dai-kun! Jika kau sudah selesai di sana, bisa kau kemari?!”
Daisuke mendengus. “Hai!”
Nyonya Takahashi merapikan tatanan meja makan. Ini memang sudah lewat dari jam makan siang. Tapi Tuan Takahashi masih saja sibuk merapikan halaman luar yang sudah tertutup salju setinggi mata kaki. Sehingga, sebagai istri yang baik, Ia harus menyajikan semua makanan ini sebelum suaminya selesai.
“Oh, Dai-kun,” serunya terkejut saat melihat Daisuke yang berdiri diam di depan pintu kamarnya. “Sudah berapa lama kau berdiri di sana?”
Daisuke tidak menggubris perkatakan Ibunya. Ia masih terlalu sibuk melihat sekeliling rumah berbahan kayu itu.
“Dai-kun! Ada apa dengan pikiranmu? Mengapa kau sering melamun belakangan ini?” Tidak mendapat jawaban dari anak tunggalnya, membuat Nyonya Takahashi mendesah. “Sekarang bisakah kau fokus sebentar? Cepat panggilkan Ayahmu. Makan siang sudah siap.”
***
Berulang kali ia merapatkan mantel merah tebalnya, udara kali ini begitu tak bersahabat baginya. Butiran-butiran putih itu kembali turun, dan tak jarang mengenai pipinya yang mulai memerah. Ia menjejalkan tangannya kedalam saku mantelnya, sedangkan kedua mata bulatnya berkeliling mengawasi tiap-tiap orang yang bejalan di sekitarnya. Ia mendengus kesal, membuat mulutnya mengeluarkan asap putih.
Bibir mungilnya menggerutu tak jelas, setiap kali ada orang yang tak sengaja menabraknya. Apa suasana di Nishiki Market –pertokoan di kyoto- selalu penuh sesak seperti ini, bahkan saat musim dingin itu tiba? Ah, sial! Ia benar-benar tak suka berada di tempat keramaian seperti ini. Kalau saja bukan karena Ibunya yang memaksa untuk menemani, tentu Ia akan lebih memilih merikuk di bawah selimut tebalnya!
“Oca-chan jangan menatap mereka seperti itu! Tidak sopan!” Wanita berumur sekitar tiga puluhan itu nampak kesal, melihat kelakuan putrinya.
Oca menatap Ibunya acuh. “Okaasan  tahu sendiri aku paling tak suka berada di tempat seperti ini!” umpatnya pelan.
“Biasakan dirimu, Oca-chan! Sampai kapan kau akan mengunci dirimu rapat-rapat?!” Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya bahwa putrinya sama sekali belum merubah pandangannya tetang orang lain. “Tidak semua orang itu jahat, Oca-chan!” Oca mendengus pelan, menanggapi perkataan ibunya itu.
“Aku tak pernah mengatakan bahwa semua orang itu jahat! Aku hanya mewaspadainya! Bukankah kejahatan itu ada dimana-mana?! Memangnya aku salah?!” ujarnya pelan.
Ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Menyusuri tiap-tiap sudut Nishiki Market. Menurut Oca, tak ada yang salah dari dirinya. Ia hanya tak mau ada orang jahat yang ingin mencelakan dirinya! Ya hanya itu saja! Tak salah, bukan?!
“Kau ini terlalu banyak menonton berita kriminal, Oca-chan!”
Lagi-lagi perkataan itu yang ia dengar. Entah sudah beberapa kali Nyonya Sasaki berkata seperti itu untuknya. Oca tak menjawab perkataan ibunya. Bukannya tak bisa membalasnya, hanya saja, ia tak mau perdebatan ini bertabah panjang. Perdebatan adalah hal yang paling ia benci.
“Oca-chan kemari! Bantu Okaasan memilihkan hadiah untuk Otousan!” panggilan dari ibunya itu mampu membuat Oca menghentikan aktifitasnya. Ia mengangguk beberapa kali, lalu berjalan mendekati ibunya, dan mulai memilih beberapa barang yang ia rasa cocok untuk di berikan kepada ayahnya nanti.
Okaasan, sepertinya ini cocok untuk Otousan!” ujar Oca.
Ia menunjukan setelan Montsuki dengan Hakama dan Haori yang didominasi warna hitam kepada ibunya. Nyonya Sasaki itu nampak mengamati, memperhatikan secara lebih detail dan seksama. Beberapa menit kemudian ia mengangguk, menjetujui saran dari putrinya.
“Kau memiliki selera yang bagus Sasaki Oca!” pujinya, lalu mengacak-acak poni Oca pelan.
***
"Haruskah aku ikut, Otousan?"
Pria yang berdiri di depan cermin itu berhenti melakukan kegiatannya. Merapikan dasi kupu-kupu. Ia lantas berbalik dan menatap anak laki-lakinya, penuh rasa syukur. Dengan keadaan mereka sekarang, Ia tidak pernah mendengar ucapan protes dari anaknya. Ya. Terakhir kali Ia mendengar kata protes adalah saat mereka masih berada di bandar udara Adelaide satu minggu yang lalu.
"Entahlah, Dai-kun. Ini minggu pertama Otousan bekerja."
Ada raut kecewa dari pemuda tampan itu. Rambut yang baru saja Ia sisir rapi, kembali berantakan. Ini salah satu kebiasaannya ketika sedang kecewa. Mengacak-acak rambutnya sendiri.
Tetapi kali ini Ia tidak boleh merajuk seperti biasanya. Kondisi ekonomi keluarganya memang masih tercukupi. Hanya saja, Tuan Takahashi, Ayahnya, tidak suka berpangku tangan lebih lama. Begitu juga dengan dirinya. Ia ingin meringankan pekerjaan ayahnya untuk hari ini. Karena menjadi pelayan disebuah acara tidak sesusah menjadi sopir pribadi, bukan?
"Otousan, aku hanya ingin membantu. Lagi pula ini hanya menjadi pelayan. Aku pernah bekerja sebagai pelayan restoran saat kita tinggal di Inggris dulu," tutur Daisuke, mencoba meyakinkan Ayahnya.
Tuan Takahashi mendesah. "Dai-kun. Acara itu memang besar dan ada banyak tamu di sana."
"Itu sebabnya Otousan diminta menjadi pelayan juga, kan? Itu artinya mereka membutuhkan tenaga ekstra. Lagi pula ini musim dingin. Akan lebih banyak pekerja malas yang berkeliaran dibandingkan pekerja yang tekun seperti Otousan. Juga aku."
Tuan Takahashi tersenyum melihat reaksi putranya. Mau tidak mau, Ia menyetujui pendapat Daisuke. Bukan hanya karena pendapat yang masuk akal, permintaan terakhir atasannya kemarin menjadi sebuah pertimbangan lain. Harus ada setidaknya dua puluh pelayan di acara itu. Dari jumlah pelayan yang ada jika ditambah dengan dirinya, maka masih kurang tiga.
"Otousan, ijinkan aku ikut ke acara itu."
Tuan Takahashi menjawab dengan satu anggukan kecil. "Hai. Tetapi jangan sampai membuat masalah, Dai-kun. Wakarimasuka?"(Wakarimasuka : mengerti?)
Dengan semangat, Daisuke menjawab. "Wakarimasu!"(Wakarimasu : mengerti)
***
Gadis itu merapatkan mantel peach miliknya. Hal ini memang gila. Tidak pernah terbayang dibenaknya bahwa Ia akan menghadiri sebuah pesta di saat salju meluncur deras. Jika bukan karena paksaan ibunya, tubuhnya tidak perlu menggigil seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur berdiri di depan pintu besar kediaman Ayahnya.
"Oca-chan, ayo masuk," ajak ibunya dengan suara lembut.
Seperti yang sudah Ia duga sebelumnya, selelah pintu besar itu terbuka, ada banyak tamu yang memenuhi ruangan. Pakaian pesta yang mereka kenakan, khususnya untuk tamu wanita, tergolong minim. Mereka seolah tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Lepaskan mantelmu," tutur Nyonya Sasaki yang telah menanggalkan mantel hitamnya lebih dulu.
Oca menggeleng kuat. "Okaasan. Aku tidak suka dingin. Bolehkah aku memakai mantelku?"
Ada raut tak suka dari Nyonya Sasaki. Tetapi wanita itu tidak memprotes permintaan anaknya. "Tetapi lepaskan syal biru itu."
"Hai."
Oca memberikan syal biru itu kepada seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Setelah itu, Ia lantas menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu melenggak ke dalam ruang pesta luas dengan dominasi warna emas. Dengan sedikit gugup, gadis itu merapatkan dekapannya. Membuat sedikit jarak dari pengunjung pesta adalah hal yang harus Ia lakukan. Tentu untuk melindungi dirinya sendiri.
"Oca-chan, kemarilah!" seru Ibunya yang kini sudah berada di tengah ruangan.
Masih berniat melindungi dirinya, Oca mengendap-endap. Pelan, tetapi pasti. Setidaknya dengan cara ini Ia dapat berada di samping Ibunya dengan selamat. Setelah melewati dua pemuda, empat gadis cantik bergaun mewah, dan dua orang pelayan, Oca melingkarkan tangan ke lengan kiri Ibunya. Meminta perlindungan. Sayang, Nyonya Sasaki tidak mengerti.
"Lihat! Itu ayahmu!"
Bola mata gadis itu mengikuti telunjuk Ibunya. Telunjuk itu mengarah ke sebuah panggung yang tidak seberapa tinggi di sebelah para pemain musik yang tengah melantunkan musik jazz. Pria yang telah melewati lebih dari empat puluh tahun kehidupan itu tampak cerah. Wajahnya yang memiliki kumis tipis itu terhiasi senyum bahagia. Ya. Jabatan Mentri yang baru saja diraihnya tentu menjadi alasan pesta ini terselenggara.
"Okaasan tidak memberi selamat pada Otousan?"
Pertanyaan yang bodoh, memang. Tetapi pertanyaan itu sama bodohnya dengan perbuatan mereka sekarang. Datang ke pesta di tengah musim dingin yang menusuk. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan terjadi di pesta ini. Ia tidak akan mungkin berada dalam radius satu meter dari ayahnya. Apa lagi memberinya selamat secara langsung. Jika terjadi, Ibunya tidak akan selamat untuk dua hari ke depan.
"Iie. Kita lihat saja dari kejauhan," ujar Nyonya Sasaki pelan. Wajah sendu itu kembali. Menguasai diri dan hati wanita itu. Entah sudah berapa lama Ia merasakan perih ini dan sudah berapa kali Ia berhasil bertahan. Benar. Kini, Ia harus melakukan hal yang seperti biasa. Menenangkan diri, kemudian kembali bersikap normal. "Toire he ikimasu." (Toire he ikimasu : pergi kekamar mandi)
Mau tidak mau, Oca merelakan Ibunya pergi. Toh ini hal yang biasa terjadi. Meninggalkan Oca untuk sekedar menyegarkan pikiran di kamar mandi. Hanya saja, ada sedikit perbedaan di sini. Oh, tidak. Ada banyak. Dan hal itu membuatnya kembali merapatkan kedua tangan ke tubuhnya. Terlalu banyak orang.
"Anda ingin minuman, Nona?"
Gadis itu terperanjat. Seorang pemuda berbalut seragam hitam-putih khas para pelayan tengah menawarkan nampan berisi beberapa minuman kepadanya. Mata elang pemuda itu menarik perhatian Oca sebentar. Tetapi baru beberapa detik, Oca melepaskan pendangannya, berpaling, lalu berlari kecil meninggalkan pemuda yang mematung sambil menajamkan sorot mata.
"Matte!" (Matte : tunggu)
Dengan sembarangan, pemuda itu meletakkan nampan ke meja terdekat. Tanpa memandang semua tugas yang tengah diembannya, Ia berlari. Berkelit di antara para tamu dan  dua kali hampir menabrak meja. Ini demi gadis itu. Gadis yang memakai gaun pink pucat dengan hiasan pita besar di belakang.
"Matte!" teriaknya lagi.
Sekarang, acara kejar mengejar itu telah memiliki banyak penonton. Tetapi pemuda yang berhasil merapatkan jarak dengan gadis yang dikejarnya, tidak peduli. Kali ini Ia tidak akan membuang kesempatan. Tidak. Gadis itu berada di depannya dan tentu saja Ia harus meraihnya. Bukan hanya untuk membuktikan ucapan Ibunya. Pemuda itu juga ingin melihat paras cantik gadis itu sekali lagi.
"Gotcha!" serunya saat berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu.
Pemuda itu mengatur napas. Getaran hebat yang menjalar di seluruh tubuh gadis itu berusaha Ia redam dengan genggamannya yang menguat. Cara itu berhasil. Getaran itu makin tidak terasa dan gadis yang Ia temui saat salju pertama di Kyoto itu menoleh. Menampakkan wajah kebingungannya.
Ia adalah manusia bodoh jika tidak terpesona dengan mata bulat gadis itu. Pipi chubby yang merona dan bibir tipisnya, terlihat sangat manis. Sungguh kecantikan khas Asia yang menyilaukan. Tidak perlu ditanyakan lagi. Ia menyukainya. Sangat menyukainya.
"Daisuki," ucapnya lantang dan membuat manik kecoklatan milik gadis di depannya membulat sempurna.
***




0 komentar:

Posting Komentar

 

A N L Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea