Tampilkan postingan dengan label BBLU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBLU. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2013

Bongkahan Bintang Lusuh Untuknya Part 5b

di Juli 01, 2013 0 komentar
Obiet menutup kedua matanya. Wajah Oik terbayang dalam kegelapan matanya. Seandainya Oik berada disini sehinga ia dapat mengatakan seluruh perasaannya, batin Obiet. Tetapi pada saat yang sama ia juga berharap Oik tidak melihatnya seperti ini, terbaring lemah tanpa melawan kematian yang berada di hadapannya. Begitu Obiet membuka matanya, segala sesuatu yang ia lihat sangat tidak masuk akal.

DOR! 

Mata Obiet tetap terbuka lebar. Dua tubuh langsung terjatuh menghempas jalanan di depan matanya. Yang satu jatuh terduduk, dan yang satu lagi jatuh terjerembap ke jalanan, tergeletak begitu saja. Obiet menatap tubuh yang tergeletak itu dengan menahan seluruh amarahnya. Darah yang seharusnya mengalir dari tubuhnya, kini berpindah pada tubuh yang ada di depannya itu. Kedua tangannya mengepal kuat, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, walaupun ia sangat ingin mengahampiri orang yang menggantikan posisinya.

KLAK! 

Suara revolver yang terjatuh mengalihkan perhatian Obiet kepada tubuh yang jatuh terduduk. Obiet mengamatinya dengan mengesampingkan perasaannya yang campur aduk. Tangan kanannya terbuka, bekas menjatuhkan revolver. Tatapannya mengiasaratkan ketakutan, alisnya terangkat mengartikan keterkejutannya akan kejadiaan yang baru saja terjadi. Melihat ekspresi itu, kepalan Obiet menguat dan amarahnya memuncak dengan sangat cepat. 

“Kau.. Deva.. beraninya kau.. melukainya! BERANINYA KAU MELUKAINYA!!” teriak Obiet, seperti orang gila.


Deva duduk dengan mulut terkatup rapat. Tak menghiraukan setiap makian Obiet yang ditujukan kepadanya. Ia menatap lurus ke arah gadis di hadapannya yang sekarang sudah berada di pangkuan Obiet. Dari punggung gadis itu, terlihat dengan jelas bahwa warna darah telah mengambil alih sebagian dari warna mantelnya. Kemudian pandangan Deva beralih pada revorlver tergeletak di dekat lututnya. Ia menutup kedua matanya, dan mulai terisak sambil memaki dirinya sendiri. 

“AAAARRRRGGGHHHH!!!” lampiasnya.




***


Dingin, menakutkan dan lembab, ya mungkin itu yang bisa menggambarkan keadaan kedua pemuda ini. Dua pemuda yang sama-sama menyukai gadis mungil itu dan bukan hanya itu mereka juga telah menyakiti gadis yang mereka sayangi. Entahlah bagaimana keadaan gadis itu sekarang, sudah dua minggu berlalu sejak kejadian mengerikan itu, dua minggu itu jugalah mereka harus tinggal dalam satu ruangan sempit, dengan beralaskan tikar yang sudah usang. Selama itu pula tak ada yang membuka suara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pemuda yang pertama sejak awal ia mendengkam disini selalu saja memandang batu yang berbentuk seperti bintang dengan tatapan yang menyayat hati. Sementara pemuda yang kedua pandangannya menembus tirai-tirai besi itu, tentu saja pandangan itu bukan tertuju pada besi-besi itu, melainkan tertuju pada satu kata, yaitu kebebasan.

“deva, obiet ada yang mencari kalian.” 

Suara berat itu mampu membuat mereka berdua kembali ke waktu yang sekarang. Keduanya secara bersamaan berdiri, dan melangkah mengikuti polisi itu, berhenti secara berbarengan, ketika melihat siapa yang mendatanginya. Awalnya mereka mengira yang menjenguk adalah kerabat dekat –berbeda orang- tapi ternyata bukan, melainkan seorang gadis yang sangat merka rindukan, gadis itu tersenyum manis, berdiri sebentar lalu membungkuk perlahan dan kembali duduk.

“waktu kalian cuman 15 menit.” Ucap polisi itu lagi, dan setelahnya polisi itu meninggalkan mereka bertiga. 

Deva dan obiet terpengkur menatap gadis yang ada didepannya. Gadis yang telah lama mereka nanti, gadis yang mereka lukai, dan gadis yang mempunyai tempat khusus di hati mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang memulainya, ketiganya tetap diam ditempat mereka. Obiet dan deva yang tetap berdiri, dan gadis itu dengan posisi duduk, memandang mereka berdua secara bergantian, dengan kedua bola mata sipitnya.

“ayo duduk. Waktu kita tidak lama bukan?” ujarnya memecah keheningan. Kedua pemuda itu mengangguk perlahan, dan mengambil posisi di depan gadis itu.

“maaf.” 

Secara bersamaan mereka mengucapkannya. Gadis itu tersenyum.

“ternyata dua minggu bersama, kalian sudah kompak ya?” candanya, berusaha mencairkan suasana. 

Entahlah ia merasa suasana disini berubah menjadi kaku, dan ia sangat membenci itu.

“bagaimana keadaan kalian? Maaf ya aku baru sempat menjenguk kalian sekarang.” Tambahnya lagi, masih tetap dengan senyuman manisnya, dan pipi yang sedikit bersemu merah.

“baik.” 

Lagi-lagi secara kebetulan kedua pemuda itu mengucapkan kata-kata yang sama. Gadis itu tertawa renyah, membuat kedua mata sipitnya itu bertambah sipit.

“ay.. eh maksudku oik, kau sudah sembuh? Kau sudah boleh keluar dari rumah sakit?” ujar obiet sedikit kikuk. Oik tersenyum, lalu mengangguk sedikit.

“seperti yang kakak lihat, aku sudah sehat. Sebenarnya aku sudah keluar dari rumah sakit 3 hari yang lalu. Tapi kak Debo melarangku untuk pergi menjenguk kalian.” Jawabnya riang. 

Obiet menghela nafas lega. Ia tersenyum melihat gadis yang ia sayangi kini sudah sehat, bahkan ia tak menyangka bahwa gadis itu akan menjenguknya, dan bukan hanya itu ia sangat senang ketika senyuman gadis itu kembali. Senyuman yang berhasil membuat jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya. Sementara Deva ia tetap menunduk, tak ada satu katapun yang ia keluarkan. Entah apa yang harus ia rasakan sekarang, senang, takut, atau apa?

“deva..” panggil oik pelan. 

Tak ada sahutan dari deva, yang terdengar hanyalah helaan nafas darinya.

“aku sudah memaafkanmu.” Tambah oik lagi, mendengar kata-kata itu Deva mengangkat kepalanya, memandang oik, dengan tatapan ragu.

“kau tak perlu merasa bersalah padaku. Anggap saja semua sudah selesai, sampai disini.” Katanya lagi. 

Deva dan Obiet kini saling memandang satu sama lain, dan secara bersamaan memandang Oik. Gadis itu tersenyum, sepertinya hari ini gadis itu terlihat berbeda, ia terlihat lebih ceria di banding biasanya.

“aku mencintaimu.” 

Secara tidak terduga Deva akhirnya angkat bicara, dengan 2 kata yang simple, tapi mampu membuat senyum gadis ini hilang.

“sejak awal aku bertemu denganmu, aku sudah merasakan hal itu.” Lanjutnya lagi, memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

“bahkan saat kau tak lagi mengingatku, perasaan itu tetap ada, dan akan terus ada, selamanya.” Oik menghela nafas perlahan, ia menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.

“terima kasih.” Ujarnya pelan.

“tapi aku..”

“mungkin perasaan aku ke kamu nggak sedalam perasaannya padamu, tapi aku yakin rasa cintaku nggak bakal lebih sedikit daripada rasa cinta dia ke kamu.” Potong obiet cepat. 

Oik dan Deva memandang Obiet kaget. Mereka tak menyangka Obiet  akan mengeluarkan kalimat itu. Oik memejamkan matanya perlahan. Ia tak sanggup untuk memulai semuanya, ia takut sangat takut. Ia tak mau kejadian mengerikan itu terulang, dan ia juga bingung dengan perasaanya sendiri. Siapa yang sebenarnya ada di hatinya? Deva atau Obiet? Ia bangkit dari tempat duduknya, bergegas pergi meninggalkan kedua pemuda ini. pergi meninggalkan kedua pemuda yang mempunyai arti khusus untuknya.



***


Ia mengerjapkan mata sebentar, menarik napas lalu kembali menghembuskannya, bola matanya berputar memandang orang-orang yang sedang berlalu lalang di depannya. Masih tak menyangka akhirnya ia dapat menghirup kembali udara bebas. Bibirnya terus tertarik kesamping, menampakkan senyum yang manis, ia berjalan dengan langkah pasti, bersenandung kecil, sepertinya ia ingin memberitahukan kesemua orang disekitarnya bahwa ini adalah hari yang sangat ia tunggu. Hari dimana ia bisa kembali kepada dunianya, dan hari ia dapat keluar dari dunia yang ia sangat benci, dunia yang mengurungnya selama beberapa tahun lamanya.

Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sedang berdiri tak jauh darinya, gadis itu, gadis yang memakai topi wol berwarna pink, gadis yang sangat ia rindukan, gadis yang telah masuk kedalam hatinya. Ya itu dia sedang berdiri di depan kios kecil, entah apa yang ia cari disana. Pemuda itu kembali melangkah mendekatinya.

“Oik.” Panggilnya pelan, ketika ia sudah berada tepat di belakang gadis itu. 

Oik memutar tubuhnya menghadap pemuda yang kini telah tersenyum kearahnya. Ia mengerjapkan matanya, memastikan bahwa apa yang ia lihat tidak salah. Mengerutkan keningnya, jujur ia sedikit terkejut melihat pemuda itu berdiri di depannya. Sejak kejadian itu Oik memang tidak datang untuk menemuinya, gadis ini masih gamang mengenai perasaannya. Maka dari itulah ia tidak menjenguknya di penjara. Ia hanya ingin memastikan, siapa yang benar-benar ada di dalam hatinya, namun sampai detik ini ia belum dapat memastikan itu semua.

“kak Obiet.” hanya kata itu lah yang dapat keluar dari bibirnya.

“boleh bicara sebentar?” Tanya obiet pelan, ia memandang Oik dengan pandangan memohon, kalau boleh jujur, ia sangat ingin memeluk Oik saat itu juga. 

Gadis itu mengangguk perlahan, berjalan pelan kearah bagku yang berada tak jauh dari kios itu, Obiet mengikutinya dari belakang.

“senang bisa bertemu dengan kakak.” Ujar Oik. 

Ia memandang Obiet dari ujung kaki hingga ujung kepala, tak banyak yang berubah dari Obiet, hanya saja Oik merasa Obiet jauh lebih tenang di banding yang dulu. Obiet tersenyum, kata-kata yang ia rangkai kemarin seakan menguap begitu saja.

“maaf.” Ya hanya satu kata itu yang dapat ia katakan. Jantung Obiet kembali berdegub tak karuan, Oik memandangnya dengan tatapan seolah-olah bertanya “untuk apa?”

“untuk semua kekacauan yang telah ku perbuat.” Oik menghela nafasnya perlahan.

“semuanya sudah selesai kak, tak ada yang perlu dimaafkan lagi, karena sejak dulu aku sudah memaafkan kakak, dan Deva.” 

Akh Deva, Obiet jadi ingat akan sesuatu hal, sebelum Obiet dinyatakan bebas, Deva menitipkan sesuatu untuk Oik. Obiet meronggoh saku celananya, mencari-cari benda kecil itu. Setelah berhasil mendapatkannya, tangannya terulur kearah Oik.

“untukmu.” Ujarnya pelan.

“apa ini?” Tanya Oik bingung, ketika melihat benda kecil yang berbentuk seperti replika bintang,  ia seakan melihat bayangan suatu kejadian yang ia sendiri tak tau kapan itu terjadi. Yang Oik ingat hanya seseorang yang berjanji kepadanya untuk membuat replika bintang. Selebihnya ia tak tahu lagi, bahkan ia juga tak ingat siapa yang berjanji kepadanya.

“deva yang menitipkan itu padaku. Aku tak mengerti apa maksudnya, yang ku tahu benda itu sangat berharga baginya.” Jelas Obiet, seakan ia dapat mengetahui apa yang Oik pikirkan. 

Jadi orang itu Deva? Orang yang berjanji memberikan bintang itu Deva? Batin Oik bingung, ia memandang benda itu sekali lagi, berusaha mengingat kenangan di masa lalunya, tapi semakin ia memaksa kepalanya menjadi sangat pusing.

“kau tahu ik, selama aku di dalam penjara satu orang yang sangat ku harapkan kehadirannya adalah kau.” Akunya pelan.

“maaf kak, aku..”

“setiap ada yang datang menjengukku, aku berharap itu kau. Tapi ternyata bukan. Kau tak datang setelah kejadiaan itu.” Potong Obiet cepat. Ia kini memandang kedua manik bening Oik, berharap ada sesuatu yang tertinggal untuknya. Tapi kedua manik  itu hanya menampakan kebingungan.

“ik aku hanya ingin kau tau, bahwa semua kata-kataku dulu itu memang benar. Aku mencintai mu ik. Sangat mencintaimu. Kau tau betapa takutnya aku saat aku melihat kau tergeletak penuh darah saat itu? Tubuhku seakan kaku, jantungku berhenti berdetak, bahkan aku tak dapat bernafas untuk beberapa saat.” 

Oik menunduk, tak berani memandang Obiet. Obiet menghela nafas perlahan. Ia tersenyum, lalu kembali melanjutkan kalimatnya.

“tapi aku juga tau diri, kau tak mungkin membalas perasaanku, kau menerima permintaan maaf dariku saja, aku sudah sangat senang, jadi..” 

ia mengenggam tangan Oik lembut.

“mulai dari sekarang, aku tak akan menganggu kehidupanmu lagi. Kau tak perlu memikirkan apa yang telah ku ucapkan tadi. Selamat tinggal.” Ujarnya, melepaskan genggamannya, dan beranjak menjauh dari Oik. 

Sementara Oik ia tetap diam tak bergeming, “aku mencintaimu.” Kata-kata itu terus berputar di otaknya, membuat syaraf diotaknya tak dapat berkerja dengan baik. “selamat tinggal.” Dua kata itu dapat membuatnya kembali kepada waktu yang sekarang, saat Obiet mengenggam tangannya tadi, ia merasakan kehangatan dan ia tau dia selalu nyaman ketika berada bersama pemuda itu. Namun saat Obiet melepaskan genggamannya, entah mengapa Oik merasa ada yang hilang darinya.

“kak Obiet..” panggil Oik keras, sayang suara Oik tak cukup keras dibanding suara riuh orang-orang yang sedang berada di dekatnya. Oik berlari mengejar Obiet, ia kini tau siapa orang yang sebenarnya ada di dalam hatinya orang itu adalah..

“kak Obiet!!!!” panggil Oik sekali lagi, Obiet menoleh mencari suara yang meneriaki namanya. 

Tatapan meraka bertemu, Oik berlari kecil menyemberangi jalan, masih dengan senyuman cerianya, ia berusaha menghampiri Obiet. Sementara Obiet ia terus memandang Oik, ia masih tak percaya bahwa Oik kini berlari kearahnya, namun seakan tersadar akan sesuatu, pandangannya beralih kearah mobil, yang sedang melaluju kencang kearah Oik.

“Oik awas!!!” teriaknya kencang. 

Oik menghentikan langkahnya, menengok kearah mobil yang sedang melaju mendekatinya. Ia menutup kedua matanya perlahan, kakinya kaku, tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia dapat merasakan ada sesuatu yang mendorongnya, seketika itu ia mendengar suara BUKK yang cukup keras, dan semuanya gelap.



***


Gadis itu mengerang pelan, kepalanya terasa berat sekali, samar-samar ia melihat bayangan hitam sedang berputar, membentuk sebuah cerita yang indah. Di dalam bayangan itu ia melihat seorang pemuda sedang tersenyum padanya, senyum yang selalu ia suka.

“aku suka bintang.” Ujarnya .
 “kau suka bintang? Kalau begitu aku akan memberikan bintang itu padamu.” Jawab pemuda itu yakin. Ia menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.
“sungguh?” pemuda itu mengangguk, lalu mengacak-acak rambut gadis mungilnya.

Perlahan-lahan matanya terbuka, setitik cahaya tertangkap, semakin lama semakin jelas, ia melihat sekeliling ruangan yang di dominasi warna putih, wangi alkhol langsung masuk kedalam rongga hidungnya. 

“aku dirumah sakit?” tanyanya pelan, pemuda yang berada di sampingnyapun terbangun ketika mendengar suaru itu.

“kau sudah sadar?” tanyanya, ia menatap Oik dengan tatapan yang berbinar-binar.

“kau tunggu dulu, kakak akan segera memanggilkan dokter.” Lanjutnya lagi, ia beranjak dari tempat duduknya, namun belum ada selangkah ia pergi, Oik menarik tangannya pelan.

“apa yang sebenarnya terjadi kenapa aku bisa ada disini?” pemuda itu mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Oik.

“hei, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku heran sepertinya kau ini hobby sekali membuat jantungku keluar ya?” guraunya, ia kembali pada posisi sebelumnya, memandang Oik dengan tatapan menunggu. Sungguh ketika mendengar kabar bahwa Oik mengalami kecelakaan untuk kesekian kalinya, nafasnya memburu tak karuan, bukan hanya itu detak jantungnyapun bertambah cepat. Oik Nampak sedang mengingat kejadian itu.

“saat itu kak obiet datang menemuiku.” Mulainya, ia menerawang jauh mengingatnya, bibirnya mengulum senyum.

“.. aku sangat senang melihat ia sudah bebas kembali, rasanya seperti mimpi dapat bertemu lagi dengannya.” Ia menghela nafasnya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya, senyum yang ia hadirkan kini sudah mulai memudar.

“..ia mengatakan itu, ia mencintaiku. Tapi dengan bodohnya aku tak menjawab perkataannya, aku hanya diam, tapi ketika ia mengucapkan selamat tinggal, entah kenapa perasaan takut itu menyelimutiku.” Ia berhenti, lalu melirik pemuda yang menjadi lawan bicaranya. Pemuda itu tak mengeluarkan kata-kata apapun, ia terus memandang Oik, menunggu cerita itu selesai.

“...saat ia pergi, entah kenapa aku reflek mengejarnya, berlari sekencang-kencangnya, yang ku tau saat itu, aku tak ingin kehilangannya. Ya aku ingin ia terus ada disampingku. Tapi saat aku hampir berhasil mengejarnya, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju sangat kencang, dan setelah itu semua menjadi gelap.” 

Ia mengakhir ceritanya dengan setitik air mata yang tertahan disudut mata indahnya. Namun belum sempat ia mengeluarkan cairan bening tersebut, matanya menyusuri setiap ruangan itu. Mencari-cari sesesuatu. Kalau ia tak salah ingat seharusnya kak Obiet ada disana, dan jika memang begitu, kenapa sekarang yang ada hanya kak Debo? Kemana kak Obiet?

“kau mencarinya?” suara itu membuyarkan lamunannya, Oik memandang Debo, lalu mengangguk pelan.

“ia sekarang sedang beristirahat.” Jawab Debo.

“maksud kakak?” Debo tersenyum, lalu membelai rambut Oik.

“kau tahu? Ia benar-benar mencintaimu, ia rela memberikan semuanya untukmu. Bahkan nyawanya sekalipun.” 

Oik kembali mengerutkan keningnya bingung. Sungguh ia tak mengerti apa yang dibicarakan kakak angkatnya ini.

“dan kakak kini tau, ternyata kau membalas perasaannya.”

“kak, dimana kak obiet sekarang? Aku ingin bertemu!” nada suara Oik kini meninggi, entah kenapa ia tak suka mendengar perkataan kakaknya. 

Lagi-lagi perasaan takut kehilangan menyeruak keluar. Ia takut, sangat takut. Kalau boleh memilih ia tak ingin kakaknya melanjutkan perkataannya. Tapi boleh kah ia berharap mendengar kakaknya mengatakan bahwa Obiet baik-baik saja, dan akan segera datang menjenguknya?

“Ia koma ik.” Kata pendek yang di ucapkan kakaknya itu terasa sangat menyesakkan, harapannya kini sirna, nafasnya tercekat, ia tak dapat bernafas dengan normal.

“kakak bercanda kan?” tanyanya parau,’ku mohon katakan padaku bahwa kakak bercanda.’ Batinnya. 

Debo tersenyum, lalu mengeleng perlahan. Oik menutup matanya perlahan, ia berusaha sekuat mungkin untuk tak mengeluarkan air mata itu, tapi ia gagal, air mata itu sudah mendobrak keluar.

“aku ingin bertemu dengannya kak.” Isaknya pelan.

“sekarang?” Tanya Debo bingung, ia memandang Oik sekali lagi, memastikan apa kondisi adiknya ini sudah pulih atau belum. Oik mengangguk cepat.

“nanti saja ya? Kau kan baru sadar.”

“kak, aku mohon, aku hanya takut jika nanti..” 

Oik tidak dapat meneruskan perkataannya ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, menahan semua gejolak yang ada. Sedangkan Debo ia Nampak sedang berpikir, ia menunduk tak tega rasanya melihat adiknya seperti ini.

“baik, kakak akan mengantarmu.”putusnya. oik tersenyum mendengar perkataan kakaknya.

“tapi berjanjilah apapun yang terjadi kau harus tetap tersenyum. Janji?” pinta Debo. Oik kembali tersenyum lalu mengangguk menyetujui.



***


Koridor demi koridor mereka lewati. Seperti dugaan Debo tadi bahwa kondisi Oik memang belum pulih, sesekali tubuh Oik limbung, napasnya juga Nampak tak stabil. Untung saja ada dirinya yang selalu cekatan ketika melihat tubuh Oik yang limbung.

“seharusnya aku tak menuruti keinginanmu!” gerutunya. 

Ia memenggang kedua pundak Oik dengan kedua tangannya, menuntunnya menuju kamar rawat Obiet. Oik tersenyum mendengarnya. Entah kenapa ia merasa senang ketika melihat Debo seperti ini.

“terima kasih.” Ujarnya tulus.

“untuk?”

“karena sudah menjagaku dan selalu ada untukku. aku beruntung punya kakak seperti dirimu.” Akunya, Debo menghentikan langkahnya sebentar, ia memandang Oik, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

“bukankah itu memang tugas seorang kakak?” tanyanya, Oik tak menjawab pertanyaannya, karena ia tau kakaknya ini tidak memerlukan jawabannya.

“.. kau tau? Sejak awal aku bertemu denganmu, aku berjanji untuk selalu menjagamu dan merawatmu seperti adikku sendiri.” Lanjutnya lagi, Debo membalikkan tubuh Oik cepat, dan memeluknya erat, pelukkan seorang kakak untuk adiknya.

“Aku menyayangimu, layaknya aku menyayangi adik kandungku.” Ia melepaskan pelukkannya, dan menghapus sisa air mata di pipi Oik.

“jangan menangis! Kau jelek kalau seperti itu.” Guraunya, gadis itu mengembungkan pipinya, baru saja ia ingin terharu mendengar perkataan kakaknya tadi, tapi moodnya langsung berubah mendengar perkataan kakaknya. Ia melangkah dengan cepat, meninggalkan Debo. Sementara Debo terkekeh melihatnya.

“hei tunggu! Aku bercanda!” ujarnya, cepat-cepat ia mengejar Oik.



***


Oik menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang wanita sedang duduk di depan kamar rawat Obiet. Tubuh wanita itu nampak bergetar tak karuan, dan disampingnya ada seorang pria yang sedang merangkulnya. Mencoba menenangkan wanita itu. Oik mengenali keduanya, ya ia pernah bertemu dengan mereka beberapa kali, kini tubuh Oik nampak kaku, ia tak berani menyapanya, ia takut wanita itu memakinya. Karena bagaimanapun adiknya berada disini karena menolongnya.

Seakan menyadari kehadiran Oik wanita itu mendongakkan kepalanya. Ia memandang Oik dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekati Oik. Setelah berada di depan Oik wanita itu tersenyum manis, lalu segera memeluknya, Oik dibuat terkejut melihatnya. Tadinya ia pikir Sivia akan memakinya dan menamparnya, tapi semua itu salah besar, ia justru memeluknya erat. Sivia menangis di pelukkan Oik, bahunya naik turun tak karuan. Pakaian pasien Oikpun sampai basah dibuatnya.

“terima kasih..” ucapnya disela-sela tangis. 

Oik mengangguk pelan. Rasanya ia tak sanggup lagi berkata atau melakukan sesuatu. Syaraf-syarafnya kini terasa mati. Sivia melepas pelukkannya dan menatap Oik dengan mata yang sudah sembab.

“berkat kau, adikku kembali seperti dulu.” Ujarnya, ia menghapus sisa-sisa air matanya dengan punggung tangannya.

“..setelah kejadian itu Obiet berubah menjadi seseorang yang sama sekali tak ku kenal. Ia seperti orang yang tak memiliki hati. Hatinya telah mati! Tapi ketika kau datang, perlahan tapi pasti sifatnya kembali.” Sivia terdiam sesaat, ia menarik napasnya pelan, kembali mengingat momen indahnya bersama Obiet.

“ia bahkan mau mendengar nasehatku, ia memintaku menyanyikan lagu kesayangannya, ia kembali, kembali menjadi adik kecilku.” Lanjutnya, Sivia menutup kedua matanya, menahan air matanya agar tidak terjatuh kembali.

“..semua itu karenamu. Aku tak pernah melihat adikku seperti ini karena seorang wanita.” 

Pertahanan OIk runtuh, ia kembali menangis mendengar perkataan Sivia. Seharusnya dari dulu ia mengetahui perasaannya, seharusnya ia tau siapa yang ada dihatinya.

“masuklah, Obiet menunggumu.” Sivia mengeser tubuhnya kekiri, mempersilahkan Oik untuk masuk kedalam.

Dengan langkah lunglainya Oik mendekat kearah pintu ruang rawat Obiet, memenggang kenop pintu dengan tangan yang bergetar, napasnya kembali tercekat, ia berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Ia tak mau membuat kondisi Obiet bertambah buruk karena air mata sialan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup nyaman, ditengah-tengah ruangan pemuda itu terbaring, matanya tertutup rapat, disekelilingnya terdapat beberapa alat dan selang, yang Oik sendiri tidak tau namanya. Ia melangkah mendekatinya, kali ini Oik berhasil untuk tidak lagi mengeluarkan air matanya. Ia tersenyum hambar ketika sudah berada di dekat Obiet.

“aku datang.” Ujar Oik kikuk, ia menghela napas pelan, menatap Obiet dengan mata nanarnya. 

Kenapa saat ini ia sangat sulit untuk bernapas? Kenapa begitu menyesakkan? Tak ada suara dari Oik, ia tak bisa lagi untuk berbicara, ia takut sangat takut, sekarang yang ia lakukan hanya menatap Obiet, berharap Obiet akan segera membuka matanya, dan tersenyum kearahnya. Senyum yang selalu membuat hatinya tenang. Tapi kini semua terbanding terbalik, Obiet hanya terbaring kaku, dengan perban yang ada dikeningnya.

“kenapa kau melakukannya?” suara parau Oik terdengar lagi, kini Oik berhasil menahan air matanya, ia tak menangis lagi. 

Pertanyaan Oik hanya dijawab oleh bunyi monitor yang ada disebelah Obiet. monitor itu menampilkan garis-garis bergelombang tidak berutaran.

“ingatanku telah kembali, kau tau itu?” Oik kembali bersuara, ia mengenggam tangan Obiet, dingin ya itu yang dirasakan Oik ketika menyentuhnya.

“dan sekarang aku tau siapa yang benar-benar ada dihatiku. Disini.” Oik menarik tangan Obiet dan menaruhnya tepat di dada Oik, merasakan debar jantung Oik yang cepat.

“orang itu kau.” Akunya, ia tersenyum manis, lalu mengusap wajah Obiet pelan.

“aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Ia mencium kening Obiet lembut, dan seketika itu juga jari tangan Obiet bergerak, matanya mengeluarkan cairan bening, Obiet menangis.

“kau mendengarku?” Tanya Oik, ia menatap Obiet dengan tatapan berharap, berharap Obiet akan kembali membuka matanya. 

Namun pertanyaannya justru dijawab oleh suara yang memekakan telinga, suara dari monitor, kini di monitor itu tidak tampak lagi garis-garis bergelombang, melainkan garis-garis lurus. Napas Oik memburu tidak karuan, seluruh syarafnya kini terasa mati.

“kak Obiettttttttttt!!!!!”teriaknya seperti orang tak waras, setelah itu Oik merasa tubuhnya lemas, ia terjatuh tepat di samping kasur Obiet, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata yang telah lama ia keluar mengalir membasahi pipinya. Tak ada lagi yang dapat dilakukannya, dunianya tersa hampa, ia tak dapat mendengar apapun, ia hanya dapat melihat bayangan Obiet yang tersenyum padanya, melambaikan tangan kearahnya, perlahan semua bayangan itu hilang, kesadarannya menurun, ia hanya mendengar teriakan kakaknyya memanggil namanya.

Bolehkah aku ikut bersamamu?



***



 angin berdesir perlahan, menerbangkan tiap-tiap benda yang ada di sekitarnya. Suasana disini sangat sepi, jarang sekali ada orang yang berlalu lalang, hanya terlihat beberapa orang yang sedang duduk diam dengan pandangan kehilangan di depan gundukan tanah.

Seperti halnya yang di lakukan mereka, diam termenung dengan pikiran mereka sendiri, membiarkan angin mengusap wajah mereka.

Pemuda itu terus memandangnya, entah kenapa ketika melihatnya seperti ini hatinya terasa sakit.

"apa kau akan seperti ini jika aku yang pergi?" ia mulai memberanikan dirinya, gadis itu meliriknya tak mengerti. 

"apa maksudmu?" tanyanya, pemuda itu tak menjawab, ia mendongakkan kepalanya, menutup kedua matanya, dan memasukkan tangan ke dalam saku celananya. 

"jujur saat aku mendengar bahwa ia telah pergi untuk selamanya hati ini begitu gembira. Tapi" ia membuka perlahan, menatap gadis itu lembut. "ketika aku melihatmu seperti ini hatiku justru menjerit dan jika aku boleh memilih aku lebih bahagia jika kau tersenyum saat bersamanya." lanjutnya lagi. 

Semua kata-kata yang ingin ia keluarkan kini sudah keluar dengan lancar. Dulu ia sangat berharap ketika ingatan Oik telah kembali ia dapat memilikinya, tapi kini harapannya hancur, karena oik ternyata lebih memilih Obiet. 

"maaf" ujar Oik pelan. 

Ia menunduk tak berani membalas tatapan mata Deva. 

"apa semuanya telah berakhir, sampai disini? Tak adakah cela untukku?" tanyanya parau, suaranya bergetar, bahkan Deva bisa mendengar detak jantungnya sendiri. 

"dev, dari dulu sampai sekarang aku tetap menyayangimu. Perasaan itu tak berubah, bahkan saat aku tak mengingatmu." aku Oik. 

Ia sekarang mendongakkan kepalanya menatap kedua mata Deva. 

"lalu?" 

"tapi perasaan itu tak lebih dari perasaan sayang adik terhadap kakaknya." 

Deva menghembuskan napasnya berat. Seharusnya ia tau, seharusnya Deva sudah mengetahui ini dari awal. Oik hanya menganggapnya sebagai kakak tak lebih dari itu. Tiba-tiba saja Deva merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, ia menoleh ke arah Oik, gadis itu kini sedang bersandar di pundaknya. Sejenak Deva merasakan darahnya mengalir begitu cepat, napasnya memburu tak karuan. 

"aku senang melihatmu keluar dari tempat menyeramkan itu." Oik menutup kedua bola matanya, membiarkan angin menerpanya. 

"terima kasih untuk semuanya."



Epilog

Hidup dan mati. Keduanya hanya terpisah oleh kaca setebal satu millimeter. Bisa pecah sewaktu-waktu. Terutama pada saat si Penjaga Kaca itu memutuskan untuk merusaknya. Bahkan si Empunya Nyawa pun tidak dapat menolaknya. Namun bertahan di dekat kaca itu juga tidak menyenangkan. Tetapi di sinilah ia. Jangan terlalu banyak bertanya mengapa ia berada di sini. Karena jawabannya terdapat pada layar yang ada di daerah ‘hidup’. 

Semua memorinya terputar di sana. Baik dan buruk. Benar dan salah. Senang dan sedih. Tidak terkecuali kejadian terakhir yang ia lihat. Cairan kental merah di atas aspal, ban mobil, dan gadis itu. 

“Bisakah film itu diputar mundur?” tanyanya pada si Penjaga Kaca. 

Si Penjaga Kaca menggeleng, membuat jubah dan tudung putihnya bergoyang. 

“Hanya si Pemilik yang bisa melakukannya.” Ia mendengus. 

Jika memang hanya dirinya yang bisa memutar kembali, maka pertanyaan terpenting untuk saat ini adalah bagaimana caranya. Kini, layar itu bersih. Haruskah ia memohon? Atau ia memerlukan remot dan menekan tombol rewind? Ia kembali menoleh pada si Penjaga Kaca. 

"Bagaimana caranya? Tolong beri tau aku… Aku ingin memastikan sesuatu.” 

“Hanya si Pemilik yang bisa melakukannya.” 

“Tolonglah…” 

“Hanya si Pemilik yang bisa melakukannya.” 

“Tolong putar ulang kejadian terakhir itu!” teriaknya, frustasi. 

Layar di daerah ‘hidup’ kembali memutarkan kejadian yang ia minta. Ia berjalan mendekati layar. Namun terhenti karena kaca yang mengurungnya. Napasnya memburu saat melihat sosok gadis yang sama sekali tidak memandangnya. Air matanya turun. Jika didengarkan ulang, perkataannya cukup menyakiti hatinya sendiri.

“…yang telah kuucapkan tadi. Selamat tinggal.” 

Deretan pertokoan mendominasi layar. Beberapa orang dengan ekspresi wajahnya masing-masing berjalan mendekat dan melewatinya. Perlahan namun pasti, persimpangan jalan semakin dekat. Beberapa orang di sampingnya ikut berjalan menyebrangi zebra cross.

“Kak Obiet!” 

Sudut pandang film itu memutar, kembali menunjukkan zebra cross dan tiang lampu merah. Juga gadis itu. Berlari ke arahnya seolah tidak ada waktu lagi. Film itu menyorot sisi kanannya. Sebuah mobil hitam melaju kencang. Gadis itu kembali terlihat. Masih berlari, bahkan semakin cepat. 

“Oik awas!”

Napasnya tertahan. Oik berhenti tepat di jalur mobil hitam. Film itu kini bergoyang, tidak fokus. Tetapi ia bisa melihat gadis itu semakin dekat dan masih mematung. Ada guncangan cukup keras setelah itu. Sekilas ia melihat Oik tersungkur di dekat trotoar. Guncangan yang lebih hebat terjadi. Kali ini ia tidak dapat melihat apapun. Layar itu gelap. Obiet berlutut, kemudian tertawa parau. Tidak, seharusnya ia bersyukur karena Oik selamat. 

Setidaknya bukan Oik yang merasakan kerasnya bemper mobil itu. Ia mendongak, kembali melihat layar yang kini menampilkan cahaya yang buram. Samar, ia dapat melihat cairan merah kental. Ban mobil yang terllihat sangat besar. Termasuk Oik yang tak bergerak. Detik berikutnya, layar itu meredup. Si Penjaga Kaca menghampirinya. Sebuah tongkat berwarna perak dengan ujung runcing berada di tangannya. Ia menghentakkan tongkat itu ke lantai putih dan membuat Obiet berdiri dalam sekejap. Obiet menatapnya, kemudian beralih ke daerah hidup.

“Apa sudah saatnya?” tanyanya.



****



Karya:

Aniza Yanuriska Wardani

Debpi Zulpiarni

Adisti Natalia

Sabtu, 29 Juni 2013

Bongkahan Bintang Lusuh Untuknya Part 5a

di Juni 29, 2013 0 komentar
Fragment de Mémoire.


Menjadi lebih baik dari hari ke hari, memang selalu menjadi doa setiap manusia. Tetapi dengan hanya berdoa saja, tidak cukup. Butuh lebih dari sekedar perbuatan, bahkan pengorbanan untuk mewujudkannya.

Ia sudah melakukan semuanya. Tetapi nihil. Gadis itu tak lagi menoleh ke arahnya. Memang sudah sepantasnya gadis itu memperlakukannya seperti itu.

Hawa dingin berhembus kencang ke arahnya. Ia merapatkan jaketnya dan terus berlari. Entah kemana gadis itu akan lari. Misinya hanyalah mendapatkan pengabulan kata maaf.

"Aya!" teriaknya.

Gadis itu tak menoleh.

"Aya! Tunggu!"

Ia memperpanjang langkahnya. Berusaha sekuat tenaga, agar setidaknya bisa sejajar dengan gadis itu.

"Aya!"

Jemarinya berusaha menggapai pundak gadis itu. Sedikit lagi.

"Aya.."

Ia membalikkan tubuh gadis itu. Dan yang sangat ia sedihkan, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, "menjauhlah dariku."

"Aya, aku.."

"Namaku Oik," sahut gadis itu.

Ia menelan ludah.

"Ya, kata dia, itu namamu," ucapnya sambil melirik pemuda yang sedari tadi ingin memangsanya.

"Itu memang namanya!" teriak pemuda itu.

"Oke.. Oik.." ucapnya, memulai. "Aku tau, kata maaf tidak sebanding dengan semua kesalahan yang kuperbuat. Tapi aku ingin kau tau bahwa aku sangat menyesal. Aku.."

"Aku juga menyesal karna sudah mengenal kakak. Aku bahkan benci," potong Oik.

Pemuda di sampingnya tersenyum. "Kau memang pantas untuk dibenci."

Ia melirik pemuda itu. "Aku tidak bicara denganmu, Deva. Seharusnya kau tau diri."

"Kakak yang seharusnya tau diri! Apa membuatku hilang ingatan, belum membuat Kak Obiet puas?! Apa kakak ingin berbohong lagi?! Atau berpura-pura menjadi orang baik?!" teriak Oik.

"Ak..aku ingin minta maaf. Aku benar-benar menyesal," tutur Obiet, lagi.

"Apa kata maaf bisa mengembalikan ingatanku? Aku bahkan hanya bisa mempercayai cerita Deva tentang orang tuaku. Aku tidak bisa mengingat mereka!"

Air mata Oik mulai merebak. Tetapi ia segera mengusapnya begitu tahu, tangan Obiet bergerak mendekati wajahnya.

"Kakak nggak perlu repot. Aku nggak mau ketemu kakak lagi."

"Ay..Oik!" Obiet kembali membalikkan badan Oik. "Maaf. Tapi aku nggak akan menyerah."

"Enyahlah."

Oik melepaskan tangan Obiet dari pundaknya. Segera ia berlari menuju Deva, merangkul tangannya, dan berjalan cepat meninggalkan Obiet. Deva menolehkan sedikit wajahnya dan menampakkan seulas senyum kemenangan. Obiet hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia memang kecewa. Bukan kepada Oik. Tetapi kepada dirinya. Kepada kebodohannya. Dan untuk itu, ia harus membayarnya.

"Oik!" teriak Obiet.

"Aku akan terus minta maaf sampai kau bisa menerimanya!"

Oik menggigit bibir bawahnya. Menahan setiap butir air mata yang berdemo di ujung matanya. Ia harus kuat. Ini untuk kebaikannya. Deva terus menuntunnya menuju lahan parkir. Kedua kakinya yang terasa enggan beranjak membuat Deva sedikit mendorong tubuhnya.

“Oik!”

Deva mendorong tubuh Oik lebih keras. Bahkan terkesan menyeretnya. Hal itu ia lakukan karena manusia yang menurutnya sangat hina itu, terus mengejar Oik, mengharap pengampunan dari Oik. Dan hal yang paling ia takutkan adalah Oik menerimanya. Walaupun sudah jelas Oik menolak permohonan maaf itu, Deva tetap saja ketakutan.

“Oik! Tolong dengarkan aku!”

Deva merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci mobil, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci, dan membuka pintu mobil. Oik mendudukkan dirinya. Tatapannya masih kosong. Ia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari bahwa seseorang yang mengemis pengabulan kata maaf, tengah menggedor-gedor kaca mobil yang ada di sampingnya.

“Oik! Oik!”

Oik mengerjapkan kedua matanya perlahan-lahan. Ia melirik ke arah Deva yang tengah sibuk menghidupkan mesin mobil. Tak lama kemudian kedua manik-maniknya beralih ke sisi lainnya. Ia menatap kedua bola mata yang memiliki warna yang sama dengan miliknya, coklat. Kemudian ia menunduk. Menatap ujung bootnya yang runcing.

“Oik! Buka! Aku minta maaf! Maafkan aku! Aku janji, aku akan ....”

Mesin mobil berderu keras selaras dengan teriakan senang dari Deva. Tanpa basa-basi, Deva segera menginjak pedal gas. Tetapi tanpa membutuhkan waktu yang lama, Deva menginjak pedal rem dengan bringas. Ia membuka kaca mobil yang ada di sampingnya.

“Obiet! Kau gila! Kalau kau memang mau mati, katakan saja!” teriaknya pada Obiet yang berhadapan langsung dengan moncong mobil.

Pundak Obiet naik-turun, napasnya tidak teratur. Ia menatap lurus ke arah Oik.

“Oik..” panggilnya, lirih.

“Woi! Cepat minggir!” teriak Deva, lagi.

Dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, Obiet memegang dadanya. “Maafkan aku.”

Hening sejenak. Keduanya diam. Bahkan Deva ikut diam. Tetapi diam dengan maksud yang berbeda. Deva diam, karena tidak bisa lagi menahan amarah yang sudah ia tahan sejak tadi. Ia menoleh, menatap Oik yang seakan mematung karena ucapan Obiet. Dan hal itu sudah cukup baginya untuk dinyatakan sebagai lampu hijau dari antrian amarahnya. Bola matanya beralih kepada Obiet.

“Tidak mau menyingkir, ya? Kalau begitu aku saja yang menyingkirkanmu!”

Sedetik kemudian pedal gas kembali ditekan. Ia bukan hanya ditekan dengan kaki, tetapi juga ditekan oleh amarah Deva. Dan tanpa memperoleh kesempatan menyingkir, seluruh tubuh Obiet menghantam bagian depan mobil dan terpental ke samping. Oik yang melihatnya hanya bisa membeku dan takut melihat ke belakang.

“TAKE THAT!” teriak Deva penuh kegembiraan.

Oik berusaha keras menahan tubuhnya yang gemetaran. Ia mencoba menolehkan kepalanya ke samping, dan menatap Deva dengan tatapan tidak percaya. Deva yang menyadari tatapan itu segera menghentikan tawanya.

“Kecepatanku tadi hanya sekitar 20 atau 30 km/jam. Tidak akan terjadi apa-apa padanya,” tutur Deva, santai.

“Deva.. kau..” kata Oik.

“Kau tau apa yang kau lakukan?” “Ya, dan kalau memang terjadi sesuatu pada dirinya.. Aku berharap dia hilang ingatan!” “Deva!” “Oik.. Ingatan dibayar dengan ingatan,” jawab Deva menyudahi pembicaraan mereka.

Oik terdiam. Deva terus tersenyum, seolah telah memenangkan undian lotre. Dengan sengaja, ia menatap kaca spionnya. Senyumnya menghilang seketika. Refleksi seseorang di dalam spionnya tengah mencoba berdiri. Deva kembali fokus ke depan. Peron karcis menghadangnya. Dengan kesal, ia menjejalkan kartu parkir ke dalam mesin, kemudian mengambilnya, dan melesat pergi.


***


Obiet berjalan dengan tergopoh-gopoh, kaki kanannya terasa lebih lemah daripada kaki kirinya akibat tabrakan kecil yang disengaja oleh deva. Dia berjalan menuju mobilnya. Setiap melihat mobil yang dia gunakan sekarang, dia kembali teringkat dengan mobil “と 347 Ford merah” mobil yang dulunya dia jual demi menutupi kejahatan busuknya dan membeli mobil yang baru. Dengan kesal dia menekan pedal gas dengan kuat, mobil itu melesat dengan cepat ke apartemen miliknya.

Apartemen miliknya gelap gulita, tidak ada tanda kehidupan disana.

Krekkkkkk “pintu terbuka” Clekkkkk

Beberapa sinar lampu menerangi setiap sudut ruangan, sedikit ada tanda kehidupan disana. Obiet membanting tubuhnya dikasur. Kasur yang empuk itu terasa berduri, badan obiet terasa ngilu semua. Hatinya terus berkecamuk, otaknya sedang berkerja memikirkan cara agar gadis itu memaafkannya, tidak tidak, minimal mau berbicara dengannya. Berdua, tanpa ada bayang lelaki itu. lelaki yang sudah membuat kakinya seperti sekarang, lelaki yang membuat semuanya berantakan.

Dia memilih mandi dengan air hangat, sedikit meregangkan otot-ototnya. Ditutupnya sejenak mata, wajah gadis itu terus menghantuinya. Nama gadis itu terus saja berputar diotaknya. Seharusnya dari awal dia tidak berurusan dengan gadis itu, tapi sudahlah, semua yang berawal pasti akan berakhir entah itu bahagia atau sebaliknya.

Setelah mandi obiet menatap keluar jendela. Tidak ada bintang satupun, hanya ada bulan dan sinarnya pun tidak seterang biasanya. Apakah suasana langit sama dengannya..??


***


Oik keluar dari mobil dengan langkah yang lunglai.

“oikkk” “pulanglah” suruhnya dengan nada yang sangat pelan, malah hampir tidak terdengar. “oikk, bagaimana kalau besokkk….”

“pergilahh deva” oik membuka pintu pagar dan masuk kedalam rumahnya. Tepatnya rumah debo. Rumah orang yang sudah menyelamatkan dia, orang yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri. Saat ini mungkin hanya debo yang bisa oik percaya.


***


Deva membanting stir mobil. Dia menuju kantor polisi, sudah tidak ada lagi yang bisa ditunda. Semuanya sudah terungkap. Siapa yang menanam dia harus menuai, siapa yang melakukan perbuatan keji dia harus bertanggung jawab untuk itu.


“nyawa dibayar nyawa, ingatan hilang apa juga harus dibayar ingatan, bukan seperti ini cara untuk menghukum lelaki bejat itu, satu-satunya tempat yang pantas untuk dia hanyalah PENJARA” deva tersenyum penuh kemenangan.

Dia melaporkan semua tindakan obiet kekantor polisi, semua bukti, plat mobil, bahkan korban atas kecelakaan itu sudah tau semuanya. Oik sudah mengetahuinya. Ini semakin mempermudah jalan deva untuk mengirim obiet kepenjara.

Polisi membuat surat penangkapan untuk obiet.

“besok semuanya akan berakhir” deva tersenyum penuh kemenangan.

Dengan santai dia mengendarai mobil.

“malam ini sepertinya aku akan tidur nyenyak dan aku tidak sabar menunggu kau diseret kekantor polisi, kau tidak mungkin melarikan diri, jika kau melarikan maka oik akan membencimu seumur hidup”


***


Gumpalan putih seperti kapas itu perlahan-lahan turun dan terus turun, lalu menempel di aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung terus menyelimuti jepang menjadi serba putih. Pohon sakura tidak lagi menampakkan keindahannya, tapi jepang tetap indah dimata siapa saja yang melihatnya.

Entah sudah berapa kali debo mengetuk pintu kamar oik tapi tidak ada tanggapan dari penghuni didalamnya. Perlahan debo membuka knop pintu, oik menyelimuti semua tubuhnya. Memang cuaca hari ini dingin tapi tidak terlalu dingin, cerah tapi tidak terlalu cerah. Debo duduk dirancang sebelah oik yang masih terlelap.

“oikkk, apa kau masih tidur..??” tidak ada tanggapan dari oik.

Debo berkali-kali mengguncang tubuh oik. Dengan sedikit kesabaran dari debo akhirnya oik membuka selimutnya, matanya sedikit bengkak tapi suhu badannya tidak panas.

“apa kau sakit..??” debo memegang kening oik.

Oik menggeleng lemah. Oik meregangkan badannya dan sedikit tersenyum kepada debo.

“baiklah kalau kau tidak sakit temenin kakak jalan-jalan keluar yah..??” ajak debo. Oik menggeleng pelan.

“diluar lagi turun salju kak, nanti sakit lagian oik sekarang lagi malas ngapa-ngapain kak, lain kali aja yah” wajah debo terlihat kecewa.

Oik memang lagi malas hari ini, dia ingin sendiri. Tapi debo terus saja merayunya, bahkan mengancam.

“kalau oik nggak mau nemenin keluar, jatah makan siang oik nggak ada yah” oik terkekeh mendengar ancaman kakaknya. Beruntung dia masih ada keluarga yang bisa dipercaya.

Oik sedikit iba melihat kakak satu-satunya ini. dengan senyum sedikit terpaksa akhirnya oik menyetujui ajakan debo. Debo tersenyum penuh kemenangan seperti baru mendapatkan lotre.



***


Cuaca diluar memang sedang turun salju tapi tidak sehebat malam tadi. Cahaya matahari semakin memperindah warna salju. Putih menyilaukan mata.

Deva terbangun dari tidurnya. Tidak biasanya dia bangun siang mungkin karena kejadian tadi malam yang sangat menguras tenaga. Deva melirik jam yang berada di meja samping tempat tidurnya. Perutnya berbunyi nyaring meminta sesuatu untuk segera dilahap. Deva hanya mencuci muka dan sikat gigi. Segera dia melesat ke salah satu tempat makanan untuk mengisi perutnya yang sudah berdemo daritadi.



***


“oik mau es krim..??” tawar debo

“kakak, hari musim salju gini mana ada yang jualan es krim atau kakak mau bunuh oik yah..??” selidik oik bercanda, debo hanya menggaruk kepalanya.

“ya sudah oik maunya apa dong..?? oh iya kita cari makanan aja yuk, kan hari dingin gini enaknya makan yang hangat-hangat” tawar debo.

Oik menggeleng lemah. Dia sedang tidak mood menyentuh apapun.

Seketika Pandangan oik tertuju pada laki-laki yang ada dihadapannya atau tepatnya dibelakang debo. Pandangan oik sangat menyeramkan seperti harimau yang siap memakan mangsanya. Pandangannya penuh amarah. Debo yang melihat perubahan tatapan oik, memutarkan kepalanya dan melihat sosok obiet sedang berdiri tegap dibekangnya.


Oik membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga. Rsa amarah, kesal, sedih semuanya bercampur. Oik menyeka airmatanya sendiri dan terus belari entah kemana.



***


Kantung belanja yang ia bawa penuh dengan mie instan dan beberapa potong roti. Ia memang maniak mie instan. Tiada hari tanpa mie instan yang masuk ke dalam lambungnya. Bahkan ketika Rio, sahabat baiknya, memperingatkannya tentang bahaya dari memakan mie instan, ia hanya membalasnya dengan mengangguk dan kembali memakan mie instan.

“...lalala.. dududu..” lantunnya.

Ia melirik jam tangannya. Seharusnya ia sudah berada di apartemennya, sekarang. Ia harus mempersiapkan diri untuk menemui Oik lagi. Dalam minggu ini, Debo tidak memperbolehkannya menjenguk gadis itu. Alasannya hanya satu dan sangat tidak masik akal baginya.

“Oik membenciku? Debo memang konyol,” gumamnya.

Ia memutar tubuhnya, lalu berjalan pelan menuju tikungan. Sedikit mencondongkan tubuh, ketika ia sampai di ujungnya. Kepalanya bergerak ke segala penjuru, hanya untuk memastikan bahwa ia memiliki waktu yang tepat untuk sampai di seberang jalan. Begitu merasa tidak akan ada yang menghalangi perjalanan pulangnya, kaki kanannya mulai melangkah.

Bibirnya kering dikikis hawa dingin yang kembali menyergap bersamaan dengan bulir-bulir putih yang jatuh bergantian menimpa tubuhnya. Untuk kesekian kalinya ia membetulkan letak kantung belanjanya. Entah mengapa kantung ini terasa begitu menyebalkan. Kantung ini seakan ingin jatuh ke bawah. Dan yang anehnya, isi kantung belanjanya bahkan tidak lebih berat dari tumpukan 4 novel berukuran sedang. Kantung ini menghambat perjalanannya.

Dengan kesal, ia menepi. Menopang kantung belanjanya dengan kedua lututnya yang ada dalam posisi jongkok. Ia meraba bagian bawah kantung, dan menemukan dua ujung mie instan meronta-ronta ingin dikeluarkan. Dengan sabar, ia menjejalkan kembali kedua mie instan ke dalam kantung dan membawanya dengan satu tangan yang menopang bagian bawah kantung belanja, sementara yang lainnya mendekap kantung belanja itu dengan sangat erat.

Sama seperti biasanya, perjalanan menuju apartemennya sangat membosankan. Tidak ada hal menarik yang dapat ia perhatikan. Kebanyakan pertokoan di sepanjang jalan tutup. Entah karena ini musim dingin, atau karena gulung tikar. Ia menghela nafas panjang. Di tikungan selanjutnya ia akan berbelok, menuju apartemennya.

“... tolonglah.”

Ia berhenti di persimpangan. Menatap dua sosok yang baru saja muncul dari salah satu sudut jalan. Terlintas di pikirannya bahwa gadis dengan mantel coklat itu adalah Oik, dan lelaki yang mencoba menggenggam tangan sang gadis adalah Obiet. Tetapi ia segera menepis pemikirannya itu. Seorang pemuda tinggi semapai menyenggol bahu kanannya sehingga tubuhnya agak oleng. Dengan niatan menghujat pemuda tadi, ia sesegera mungkin menegakkan sekaligus membalikkan tubuhnya ke arah larinya pemuda tadi.

“Kau! Dimana letak mat....”

Bibirnya terkatup. Kedua bola matanya menampakkan isyarat kebosanan stadium akhir. Ia mengumpat dalam hati. “Apa aku ini dikutuk untuk selalu bertemu denganmu?!”

“... Tunggu! Tunggu, Oik!”

Ia mendekap kantung belanjanya lebih erat. Kemudian mulai menjejakkan kakinya dengan kekuatan yang lebih besar agar ia dapat menyusul langkah kaki pemuda yang berada jauh di depannya. Susah payah ia berlari mengejarnya. Mie instan dan beberapa potong roti yang berada di urutan paling atas dalam kantung belanjanya melompat-lompat tak karuan. Terpaksa, ia menghentikan larinya. Begitu selesai mengatur nafasnya, ponsel miliknya berdering. Barisan nomor yang tak dikenalnya berderet-deret di layar ponselnya.

“Halo?” “Apa benar saya bicara dengan saudara Deva?”

“Iya, saya Deva.”

“Saya dari kepolisian Tokyo. Saat ini kasus yang saudara ajukan beberapa hari yang lalu telah diproses. Dan surat penangkapan terhadap tersangka telah tur...”

“Kebetulan sekali!” potongnya.

“Saat ini orang itu, maksud saya tersangka, sedang berada beberapa meter dari tempat saya berdiri. Tolong segera tangkap dia.”

“Baiklah. Aktifkan GPS di ponsel saudara. Kami akan mengirimkan unit kami yang ada di dekat lokasi. Terima kasih atas kerja samanya.”

Tanpa membuang bannyak waktu, ia segera mengaktifkan GPS. Kemudian kembali memacu kaki-kakinya untuk mengejar ketertinggalan. Namun tak lama ia berhenti, lalu bersembunyi di balik tiang listrik di samping toko bunga. Ia meletakkan kantung belanjanya di samping rak bunga mawar. Lehernya sedikit menjulur, membiarkan kedua bola matanya menangkap gambaran dua sosok yang berada tak jauh darinya.

“Bukannya aku sudah katakan berkali-kali kalau aku nggak mau ketemu kakak lagi! Seharusnya Kak Obiet tau diri!” bentak si gadis sambil mengambil jarak sekenanya.

Pemuda yang tadi menyenggol pundaknya tadi, membuang nafas agak kasar. Manik coklat miliknya menatap lurus ke arah manik coklat si gadis.

“Aku juga pernah mengatakan kalau aku akan terus meminta maaf sampai kau memaafkan kesalahanku. Oik, tolonglah..”

Merasa sudah bosan dengan semua perkataan yang selalu keluar dari kedua orang di hadapannya, akhirnya ia memilih untuk mengawasi sekeliling. Bukannya ia tidak peduli lagi dengan permasalahan yang ada di depan matanya, tetapi untuk saat ini ia lebih tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan polisi, dalam bentuk apapun. Belum lama ia mencari, dari tikungan jalan muncul mobil patroli. Senyumnya mengembang melebihi ambang normal. Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya, melambai ke arah mobil patroli, lalu menunjuk pemuda yang memunggunginya. Seperti mengerti apa yang dimaksud, mobil patroli berhenti tepat di samping kedua orang yang masih sibuk berargumen tentang permintaan maaf.

Kaget dengan kehadiran dua polisi yang membawa surat penangkapan, membuat keduanya mematung. Mereka saling melirik satu sama lain. Tak satupun dari mereka yang mampu berkata-kata. Polisi kembali mencairkan suasana dengan membacakan isi surat penangkapan. Tetapi keduanya semakin tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Hingga salah salah satu dari mereka angkat bicara.

“Siapa yang melaporkan, kalau saya boleh tau,” tanya si Gadis.

“Aku,” jawabnya. Gadis itu menoleh. Ia tampak tidak kaget dengan jawaban itu.

“Deva? Harusnya aku tau. Ini urusanku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

Deva diam. Ia melirik Obiet, yang ada di sampingnya, yang tengah mematung menatap surat penangkapan dirinya. “Seharusnya kau tau, mengapa aku melakukannya. Oik, inilah penyelesaian yang kau cari.”

Suasana kembali hening. Polisi yang sudah bosan melihat pemandangan seperti ini, mulai mengambil langkah. Ia mendekati tujuan dari tugasnya hari ini, menangkap tersangka tabrak lari yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

Ia mendekati tersangka. Berniat menghiasi kedua lengannya dengan borgol. Namun belum sempat ia menyentuhkan borgol tersebut ke tangan tersangka, tangan tersangka telah hilang dari pandangannya.

“Jangan lari!” teriak kedua Polisi sambil berlari mengejar Obiet.

Deva mengepalkan tangannya dan seketika meninju pintu mobil polisi yang ada tepat di sampingnya. Ia melirik ke dalam mobil. Entah hanya perasaannya saja atau memang hal ini terjadi. Apa kedua polisi itu tidak memikirkan untuk mengejar Obiet dengan mobil patrolinya? Tanpa pikir panjang ia segera masuk ke dalam. Ia juga tidak mempedulikan Oik yang menggedor-gedor kaca pintu mobil.

Deru mobil menguasai kebisingan yang terdengar di telinga. Deva mengemudikan mobil patroli dengan bringas. Sering kali ia tidak memperhatikan jalan yang ada di depannya. Ia malah sibuk melihat ke samping kanan dan kirinya, mengharapkan buruannya dapat ia temukan dalam keadaan apapun. Memang ia seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. Tetapi satu hal yang ia sadari. Jarum itu akan tetap berada di dalam jerami jika ia tidak melakukan apapun. Sehingga satu-satunya hal yang dapat menyelesaikan masalahnya adalah terus mencari, sampai ia menemukannya.

Bukan secara kebetulan Deva dapat menemukan mereka, Obiet dan polisi itu. Ia memang menguasai jalanan di sekitar apartemennya. Tak lupa, insting pemburunya yang keluar secara otomatis ketika ia tengah dibuat marah. Dan yang terpenting, takdir. Deva yakin bahwa ia dikutuk untuk selalu terhubung dengan Obiet dalam hal-hal buruk. Semenjak Oik hilang ingatan, kejadian buruk selalu menimpa dirinya. Dan kini saatnya kejadian buruk menimpa Obiet.

Obiet yang tadinya berlarian di trotoar, terpaksa berpindah lintasan ke jalan raya untuk menghindari pejalan kaki yang memadati trotoar. Sementara itu, dua polisi tengah bersusah payah mengejarnya. Meskipun usianya baru berkepala 3, nafasnya terasa dua kali lebih tua dibandingkan dengan umur aslinya. Semakin lama jarak mereka semakin lebar. Polisi yang sudah lebih dari setengah jam mengejar Obiet, mulai putus asa. Suasana di sekelilingnya juga mendukung keputusannya. Salju yang baru saja turun 45 menit yang lalu, telah menutup sebagian jalan, sehingga agak susah untuk berlari di antara tumpukan salju. Salah satu di antara polisi itu mulai berpikir, mengapa ia tidak membawa mobil patrolinya tadi? Tumpukan salju ini bisa dengan mudah dilalui dengan mobil. Ia memukul keningnya sendiri.

Beberapa meter dari dua polisi yang berlari lemas itu, muncul mobil patroli yang menerobos tumpukan salju dengan mudah. Kecepatannya sudah melebihi 60 km/jam, sekarang. Kecepatan yang termasuk tinggi untuk menghadapi medan bersalju. Dalam hitungan detik, mobil itu telah melewati pengemudi aslinya. Dengan suara lantang polisi itu meneriaki mobil dinasnya, “MOBILKU!!” . dengan sigap ia mengambil walkie talkie dari kantung celananya, dan meminta bala bantuan.



***


“Hosh.. hhosh..”

Nafasnya memendek lebih cepat dari biasanya. Biasanya ia baru kewalahan bernafas saat berlari di menit ke-50. Mungkin ini karena ia jarang pergi ke gym, atau karena ia sedang terburu-buru, seperti saat ini. Jujur, ia tidak ingin terus berlari. Tetapi ia belum mendapatkan apa yang harus ia dapatkan dari Oik. Dan untuk itulah ia berlari.

“... hhosh.. hosh...”

Sepuluh meter lagi, ia mencapai tikungan. Sedikit melirik ke belakang, dan kembali berlari dengan mengurangi sedikit tenaganya. Polisi itu sudah tidak ada. Setidaknya ia dapat memulihkan tenaganya, walau hanya sebentar. Namun baru beberapa detik ia menikmati kesantaiannya, deru mobil terdengar mendekat. Mungkin tidak akan menjadi masalah jika ia berada di trotoar. Tetapi nyatanya ia berada di tengah jalan. Secepat mungkin ia menoleh dan mendapatkan kejutan yang tidak diharapkan. Mobil patroli berada tepat di belakangnya, dan yang paling buruk, Deva berada di bangku kemudi.

Tanpa pikir panjang. ia segera memacu otot-otot kakinya untuk berkerja sama dengan tulang-tulang penopang kakinya agar ia bisa menambah kecepatan berlari. Mungkin kali ini larinya akan terkalahkan oleh kecepatan mobil. Jika hal itu terjadi, ia akan terlindas olehnya, dan Deva akan tertawa penuh suka cita. Tetapi ia akan memastikan bahwa dirinya akan selamat.

“OBIET! MAU LARI KEMANA LAGI, HAH?! KALAU KAU TIDAK KEBERATAN, AKU AKAN MENUNJUKKAN JALANMU KE NERAKA! HAHAHA!”

Deva dapat mendengar perkataannya sendiri, dan entah mengapa ia bangga dengan perkataannya itu. Ia menganggap perkataannya sangat cocok dengan apa yang terjadi saat ini dan nanti. Benar, ia memang ingin perkataannya terkabul. Perkataan adalah sebuah doa, bukan?

Ia melihat Obiet berlari lurus. Obiet akan melewatkan tikungan yang ada di hadapannya, pikirnya. Tanpa menunggu aba-aba, Deva sudah menambah kecepatannya. Hal itu membuat mobil patroli sedikit terhuyung ke kanan dan ke kiri akibat jalanan yang tertutup salju. Tetapi salju tidak dapat menghentikannya. Ia terus memacu mobil dengan bringas. Sampai akhirnya Obiet membelokkan badannya ke arah tikungan dalam sekejap mata. Kelopak mata Deva terbuka lebar. Dengan sigap, ia menginjak pedal rem dan membanting setir ke kiri. Jalan yang licin karena bersalju, membuat mobil patroli itu tergelincir jauh dari targetnya, dan berhenti setelah menabrak dua mobil yang berada di depannya.

Asap mengepul tepat setelah kejadian. Body bagian kanan mobil patroli rusak parah, tetapi pengemudinya selamat, Deva selamat. Matanya terbuka lebar, mengisyaratkan kebencian yang mendalam. Darah segar merambat pelan di dahi kirinya. Ia menatap stang setir selama beberapa detik, sebelum ia menoleh ke kiri, menatap tajam orang yang menanyakan keadaan dirinya.

“Aa.. ah.. ter..ternyata kau tidak apa-apa. Syukurlah kau sel...”

Brumm!! Kerusakan akibat tabrakan tadi hanya sedikit mempengaruhi jalannya mobil patroli itu. Yah, setidaknya mobil ini masih bisa berjalan, bahkan sedikit mengebut. Hal ini sudah cukup bagi Deva yang kesetanan. Sekarang, di seluruh penjuru otaknya telah dipenuhi dengan pemikiran bagaimana cara tercepat untuk melumpuhkan Obiet. Dan jawaban itu datang dari laci dasbor yang terbuka karena benturan keras saat tabrakan terjadi. Deva meraih benda itu dan tertawa lepas seolah Dewi Fortuna berpihak padanya.



***


Obiet tidak dapat merasakan kedua kakinya. Hal itu terjadi karena ia terus memaksa mereka untuk berlari. Tetapi ini bukan saatnya untuk mengeluh. Ia yakin Deva akan terus memburunya, walaupun mobil patroli yang dikendarai Deva sudah tidak terlihat. Mungkin dengan berlari sedikit lagi akan menyelesaikan masalahnya. Ia menyeberang ke sisi jalan yang agak sepi. Kemudian berbelok ke kiri, ke gang yang sedikit terlihat lebar dan agak gelap karena tertutup bayangan sebuah gedung perkantoran yang ada di seberang jalan.

Obiet menghentikan acara berlarinya. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok dan mengambil nafas hingga semua fungsi tubuhnya kembali normal. Beberapa menit kemudian, ia mulai berdiri tegap sambil sedikit melemaskan pergelangan kakinya. Bunyi seperti tulang yang patah terdengar ketika ia mencoba memutar pergelangan kakinya. Obiet agak merintih kesakitan ketika ia mencoba menggerakkan kaki kanannya. Ia teringat kejadian di tempat parkir taman hiburan seminggu yang lalu. Deva yang secara sengaja menabraknya waktu itu telah membuat kerusakan yang agaknya fatal baginya.

Dengan sedikit tertatih-tatih, Obiet melangkah menyusuri gang yang sepi. Satu-satunya hal yang dapat ia pikirkan adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan Deva. Ia tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi dengan mudah. Seperti spekulasinya tentang hubungan Deva dan Oik sebelum kecelakaan itu, pastinya penyebab mengapa Deva begitu gigih dalam memperjuangkan Oik. Obiet memijat keningnya. Kemudian menggeleng pelan. Sedekat apapun hubungan mereka di masa lalu, sebodoh-bodohnya perbuatan yang ia lakukan, dan serendah-rendahnya sikapnya yang seolah mencirikannya seperti pembunuh bermuka tebal yang mengharap cinta sekaligus belas maaf dari korbannya yang selamat, membuat masalahnya semakin rumit. Obiet kembali menggeleng dan mengumpat pelan kepada dirinya sendiri.

Hanya ada segelintir orang yang sama sepertinya, berjalan menyusuri gang. Tak sedikit dari mereka yang terburu-buru, seperti terikat janji. Obiet menyeret kaki kanannya sambil terus berpegangan pada tembok-tembok di pinggir jalan. Menyadari bahwa kakinya mulai terasa aneh, Obiet memutuskan untuk kembali beristirahat.
Mungkin semua masalahnya akan selesai jika ia tidak beristirahat untuk kedua kalinya, karena beberapa menit setelah ia memutuskan hal itu, mobil patroli yang ringsep bagian kanannya kembali terlihat di mata Obiet. Seperti bensin yang tersulut api, Obiet segera berdiri tegak dan berjalan cepat menyusuri sisa gang. Begitu tiba di mulut gang, Obiet disambut oleh bemper mobil patroli. Tubuh Obiet membentur body mobil dengan keras. Obiet dapat merasakan beberapa tulangnya retak, atau mungkin patah.


Deva keluar dari mobil dengan seringai mengerikan khas serigala yang berhadapan dengan mangsanya. Di kedua matanya tercetak tulisan ‘Akulah pemenangnya’ dengan jelas. Tangan kanannya menggenggam revolver dengan mantap.

“Aku.. tidak akan pernah.. melepaskannya,” ujar Deva sambil menatap Obiet yang sudah terkulai tak berdaya.

“Dia.. milikku. Dulu.. sekarang.. selamanya. Kau.. tidak berhak sama sekali.”

“Deva.. kita bisa selesaikan ini de..”

“DIAM!” teriak Deva.

“Apa kau tau kalau kau sudah merusak segalanya. KAU MERUSAK SEGALANYA! DENGAR?! KAU MERUSAKNYA!” “Dev..” “DI HARI ITU AKU INGIN MENGATAKAN SEMUANYA! DI HARI ITU AKU INGIN DIA TAU PERASAANKU! DI HARI ITU AKU MENUNGGUNYA HINGGA MALAM HARI TAPI DIA TIDAK DATANG! KARNA KAU! KARNA KAU SUDAH MEMBUNUHNYA!”

“Aku tidak membunuhnya!” sanggah Obiet.

“Kau membunuhnya! KAU MEMBUNUH OIK-KU YANG DULU!” teriak Deva.

Obiet terdiam. Ia tidak dapat berargumen tentang hal ini.

“Sejak menyadari bahwa Oik kehilangan ingatannya, termasuk ingatan tentangku, aku sudah mencoba menerima keadaannya. Aku berharap dia dapat mengingatku kembali, atau setidaknya dia merasa mengenalku. Tapi kenyataannya tidak. Dia tidak merasakan apapun terhadapku. Tapi terhadapmu.. Dia menganggapmu seperti malaikat yang turun dari langit.”

“Sudah cukup bagimu untuk menguasainya. Masalah di antara kita tidak akan selesai hingga salah satu di antara kita menemui ajal,” ucap Deva. “Dan kurasa ini giliranmu.”

Deva menarik pelatuk revolvernya. Dengan sedikit seringai, ia mengucap salm perpisahan pada Obiet.

“Sayounara.”

 

A N L Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea