Sabtu, 29 Juni 2013

Bongkahan Bintang Lusuh Untuknya Part 5a

di Juni 29, 2013
Fragment de Mémoire.


Menjadi lebih baik dari hari ke hari, memang selalu menjadi doa setiap manusia. Tetapi dengan hanya berdoa saja, tidak cukup. Butuh lebih dari sekedar perbuatan, bahkan pengorbanan untuk mewujudkannya.

Ia sudah melakukan semuanya. Tetapi nihil. Gadis itu tak lagi menoleh ke arahnya. Memang sudah sepantasnya gadis itu memperlakukannya seperti itu.

Hawa dingin berhembus kencang ke arahnya. Ia merapatkan jaketnya dan terus berlari. Entah kemana gadis itu akan lari. Misinya hanyalah mendapatkan pengabulan kata maaf.

"Aya!" teriaknya.

Gadis itu tak menoleh.

"Aya! Tunggu!"

Ia memperpanjang langkahnya. Berusaha sekuat tenaga, agar setidaknya bisa sejajar dengan gadis itu.

"Aya!"

Jemarinya berusaha menggapai pundak gadis itu. Sedikit lagi.

"Aya.."

Ia membalikkan tubuh gadis itu. Dan yang sangat ia sedihkan, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, "menjauhlah dariku."

"Aya, aku.."

"Namaku Oik," sahut gadis itu.

Ia menelan ludah.

"Ya, kata dia, itu namamu," ucapnya sambil melirik pemuda yang sedari tadi ingin memangsanya.

"Itu memang namanya!" teriak pemuda itu.

"Oke.. Oik.." ucapnya, memulai. "Aku tau, kata maaf tidak sebanding dengan semua kesalahan yang kuperbuat. Tapi aku ingin kau tau bahwa aku sangat menyesal. Aku.."

"Aku juga menyesal karna sudah mengenal kakak. Aku bahkan benci," potong Oik.

Pemuda di sampingnya tersenyum. "Kau memang pantas untuk dibenci."

Ia melirik pemuda itu. "Aku tidak bicara denganmu, Deva. Seharusnya kau tau diri."

"Kakak yang seharusnya tau diri! Apa membuatku hilang ingatan, belum membuat Kak Obiet puas?! Apa kakak ingin berbohong lagi?! Atau berpura-pura menjadi orang baik?!" teriak Oik.

"Ak..aku ingin minta maaf. Aku benar-benar menyesal," tutur Obiet, lagi.

"Apa kata maaf bisa mengembalikan ingatanku? Aku bahkan hanya bisa mempercayai cerita Deva tentang orang tuaku. Aku tidak bisa mengingat mereka!"

Air mata Oik mulai merebak. Tetapi ia segera mengusapnya begitu tahu, tangan Obiet bergerak mendekati wajahnya.

"Kakak nggak perlu repot. Aku nggak mau ketemu kakak lagi."

"Ay..Oik!" Obiet kembali membalikkan badan Oik. "Maaf. Tapi aku nggak akan menyerah."

"Enyahlah."

Oik melepaskan tangan Obiet dari pundaknya. Segera ia berlari menuju Deva, merangkul tangannya, dan berjalan cepat meninggalkan Obiet. Deva menolehkan sedikit wajahnya dan menampakkan seulas senyum kemenangan. Obiet hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia memang kecewa. Bukan kepada Oik. Tetapi kepada dirinya. Kepada kebodohannya. Dan untuk itu, ia harus membayarnya.

"Oik!" teriak Obiet.

"Aku akan terus minta maaf sampai kau bisa menerimanya!"

Oik menggigit bibir bawahnya. Menahan setiap butir air mata yang berdemo di ujung matanya. Ia harus kuat. Ini untuk kebaikannya. Deva terus menuntunnya menuju lahan parkir. Kedua kakinya yang terasa enggan beranjak membuat Deva sedikit mendorong tubuhnya.

“Oik!”

Deva mendorong tubuh Oik lebih keras. Bahkan terkesan menyeretnya. Hal itu ia lakukan karena manusia yang menurutnya sangat hina itu, terus mengejar Oik, mengharap pengampunan dari Oik. Dan hal yang paling ia takutkan adalah Oik menerimanya. Walaupun sudah jelas Oik menolak permohonan maaf itu, Deva tetap saja ketakutan.

“Oik! Tolong dengarkan aku!”

Deva merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci mobil, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci, dan membuka pintu mobil. Oik mendudukkan dirinya. Tatapannya masih kosong. Ia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari bahwa seseorang yang mengemis pengabulan kata maaf, tengah menggedor-gedor kaca mobil yang ada di sampingnya.

“Oik! Oik!”

Oik mengerjapkan kedua matanya perlahan-lahan. Ia melirik ke arah Deva yang tengah sibuk menghidupkan mesin mobil. Tak lama kemudian kedua manik-maniknya beralih ke sisi lainnya. Ia menatap kedua bola mata yang memiliki warna yang sama dengan miliknya, coklat. Kemudian ia menunduk. Menatap ujung bootnya yang runcing.

“Oik! Buka! Aku minta maaf! Maafkan aku! Aku janji, aku akan ....”

Mesin mobil berderu keras selaras dengan teriakan senang dari Deva. Tanpa basa-basi, Deva segera menginjak pedal gas. Tetapi tanpa membutuhkan waktu yang lama, Deva menginjak pedal rem dengan bringas. Ia membuka kaca mobil yang ada di sampingnya.

“Obiet! Kau gila! Kalau kau memang mau mati, katakan saja!” teriaknya pada Obiet yang berhadapan langsung dengan moncong mobil.

Pundak Obiet naik-turun, napasnya tidak teratur. Ia menatap lurus ke arah Oik.

“Oik..” panggilnya, lirih.

“Woi! Cepat minggir!” teriak Deva, lagi.

Dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, Obiet memegang dadanya. “Maafkan aku.”

Hening sejenak. Keduanya diam. Bahkan Deva ikut diam. Tetapi diam dengan maksud yang berbeda. Deva diam, karena tidak bisa lagi menahan amarah yang sudah ia tahan sejak tadi. Ia menoleh, menatap Oik yang seakan mematung karena ucapan Obiet. Dan hal itu sudah cukup baginya untuk dinyatakan sebagai lampu hijau dari antrian amarahnya. Bola matanya beralih kepada Obiet.

“Tidak mau menyingkir, ya? Kalau begitu aku saja yang menyingkirkanmu!”

Sedetik kemudian pedal gas kembali ditekan. Ia bukan hanya ditekan dengan kaki, tetapi juga ditekan oleh amarah Deva. Dan tanpa memperoleh kesempatan menyingkir, seluruh tubuh Obiet menghantam bagian depan mobil dan terpental ke samping. Oik yang melihatnya hanya bisa membeku dan takut melihat ke belakang.

“TAKE THAT!” teriak Deva penuh kegembiraan.

Oik berusaha keras menahan tubuhnya yang gemetaran. Ia mencoba menolehkan kepalanya ke samping, dan menatap Deva dengan tatapan tidak percaya. Deva yang menyadari tatapan itu segera menghentikan tawanya.

“Kecepatanku tadi hanya sekitar 20 atau 30 km/jam. Tidak akan terjadi apa-apa padanya,” tutur Deva, santai.

“Deva.. kau..” kata Oik.

“Kau tau apa yang kau lakukan?” “Ya, dan kalau memang terjadi sesuatu pada dirinya.. Aku berharap dia hilang ingatan!” “Deva!” “Oik.. Ingatan dibayar dengan ingatan,” jawab Deva menyudahi pembicaraan mereka.

Oik terdiam. Deva terus tersenyum, seolah telah memenangkan undian lotre. Dengan sengaja, ia menatap kaca spionnya. Senyumnya menghilang seketika. Refleksi seseorang di dalam spionnya tengah mencoba berdiri. Deva kembali fokus ke depan. Peron karcis menghadangnya. Dengan kesal, ia menjejalkan kartu parkir ke dalam mesin, kemudian mengambilnya, dan melesat pergi.


***


Obiet berjalan dengan tergopoh-gopoh, kaki kanannya terasa lebih lemah daripada kaki kirinya akibat tabrakan kecil yang disengaja oleh deva. Dia berjalan menuju mobilnya. Setiap melihat mobil yang dia gunakan sekarang, dia kembali teringkat dengan mobil “と 347 Ford merah” mobil yang dulunya dia jual demi menutupi kejahatan busuknya dan membeli mobil yang baru. Dengan kesal dia menekan pedal gas dengan kuat, mobil itu melesat dengan cepat ke apartemen miliknya.

Apartemen miliknya gelap gulita, tidak ada tanda kehidupan disana.

Krekkkkkk “pintu terbuka” Clekkkkk

Beberapa sinar lampu menerangi setiap sudut ruangan, sedikit ada tanda kehidupan disana. Obiet membanting tubuhnya dikasur. Kasur yang empuk itu terasa berduri, badan obiet terasa ngilu semua. Hatinya terus berkecamuk, otaknya sedang berkerja memikirkan cara agar gadis itu memaafkannya, tidak tidak, minimal mau berbicara dengannya. Berdua, tanpa ada bayang lelaki itu. lelaki yang sudah membuat kakinya seperti sekarang, lelaki yang membuat semuanya berantakan.

Dia memilih mandi dengan air hangat, sedikit meregangkan otot-ototnya. Ditutupnya sejenak mata, wajah gadis itu terus menghantuinya. Nama gadis itu terus saja berputar diotaknya. Seharusnya dari awal dia tidak berurusan dengan gadis itu, tapi sudahlah, semua yang berawal pasti akan berakhir entah itu bahagia atau sebaliknya.

Setelah mandi obiet menatap keluar jendela. Tidak ada bintang satupun, hanya ada bulan dan sinarnya pun tidak seterang biasanya. Apakah suasana langit sama dengannya..??


***


Oik keluar dari mobil dengan langkah yang lunglai.

“oikkk” “pulanglah” suruhnya dengan nada yang sangat pelan, malah hampir tidak terdengar. “oikk, bagaimana kalau besokkk….”

“pergilahh deva” oik membuka pintu pagar dan masuk kedalam rumahnya. Tepatnya rumah debo. Rumah orang yang sudah menyelamatkan dia, orang yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri. Saat ini mungkin hanya debo yang bisa oik percaya.


***


Deva membanting stir mobil. Dia menuju kantor polisi, sudah tidak ada lagi yang bisa ditunda. Semuanya sudah terungkap. Siapa yang menanam dia harus menuai, siapa yang melakukan perbuatan keji dia harus bertanggung jawab untuk itu.


“nyawa dibayar nyawa, ingatan hilang apa juga harus dibayar ingatan, bukan seperti ini cara untuk menghukum lelaki bejat itu, satu-satunya tempat yang pantas untuk dia hanyalah PENJARA” deva tersenyum penuh kemenangan.

Dia melaporkan semua tindakan obiet kekantor polisi, semua bukti, plat mobil, bahkan korban atas kecelakaan itu sudah tau semuanya. Oik sudah mengetahuinya. Ini semakin mempermudah jalan deva untuk mengirim obiet kepenjara.

Polisi membuat surat penangkapan untuk obiet.

“besok semuanya akan berakhir” deva tersenyum penuh kemenangan.

Dengan santai dia mengendarai mobil.

“malam ini sepertinya aku akan tidur nyenyak dan aku tidak sabar menunggu kau diseret kekantor polisi, kau tidak mungkin melarikan diri, jika kau melarikan maka oik akan membencimu seumur hidup”


***


Gumpalan putih seperti kapas itu perlahan-lahan turun dan terus turun, lalu menempel di aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung terus menyelimuti jepang menjadi serba putih. Pohon sakura tidak lagi menampakkan keindahannya, tapi jepang tetap indah dimata siapa saja yang melihatnya.

Entah sudah berapa kali debo mengetuk pintu kamar oik tapi tidak ada tanggapan dari penghuni didalamnya. Perlahan debo membuka knop pintu, oik menyelimuti semua tubuhnya. Memang cuaca hari ini dingin tapi tidak terlalu dingin, cerah tapi tidak terlalu cerah. Debo duduk dirancang sebelah oik yang masih terlelap.

“oikkk, apa kau masih tidur..??” tidak ada tanggapan dari oik.

Debo berkali-kali mengguncang tubuh oik. Dengan sedikit kesabaran dari debo akhirnya oik membuka selimutnya, matanya sedikit bengkak tapi suhu badannya tidak panas.

“apa kau sakit..??” debo memegang kening oik.

Oik menggeleng lemah. Oik meregangkan badannya dan sedikit tersenyum kepada debo.

“baiklah kalau kau tidak sakit temenin kakak jalan-jalan keluar yah..??” ajak debo. Oik menggeleng pelan.

“diluar lagi turun salju kak, nanti sakit lagian oik sekarang lagi malas ngapa-ngapain kak, lain kali aja yah” wajah debo terlihat kecewa.

Oik memang lagi malas hari ini, dia ingin sendiri. Tapi debo terus saja merayunya, bahkan mengancam.

“kalau oik nggak mau nemenin keluar, jatah makan siang oik nggak ada yah” oik terkekeh mendengar ancaman kakaknya. Beruntung dia masih ada keluarga yang bisa dipercaya.

Oik sedikit iba melihat kakak satu-satunya ini. dengan senyum sedikit terpaksa akhirnya oik menyetujui ajakan debo. Debo tersenyum penuh kemenangan seperti baru mendapatkan lotre.



***


Cuaca diluar memang sedang turun salju tapi tidak sehebat malam tadi. Cahaya matahari semakin memperindah warna salju. Putih menyilaukan mata.

Deva terbangun dari tidurnya. Tidak biasanya dia bangun siang mungkin karena kejadian tadi malam yang sangat menguras tenaga. Deva melirik jam yang berada di meja samping tempat tidurnya. Perutnya berbunyi nyaring meminta sesuatu untuk segera dilahap. Deva hanya mencuci muka dan sikat gigi. Segera dia melesat ke salah satu tempat makanan untuk mengisi perutnya yang sudah berdemo daritadi.



***


“oik mau es krim..??” tawar debo

“kakak, hari musim salju gini mana ada yang jualan es krim atau kakak mau bunuh oik yah..??” selidik oik bercanda, debo hanya menggaruk kepalanya.

“ya sudah oik maunya apa dong..?? oh iya kita cari makanan aja yuk, kan hari dingin gini enaknya makan yang hangat-hangat” tawar debo.

Oik menggeleng lemah. Dia sedang tidak mood menyentuh apapun.

Seketika Pandangan oik tertuju pada laki-laki yang ada dihadapannya atau tepatnya dibelakang debo. Pandangan oik sangat menyeramkan seperti harimau yang siap memakan mangsanya. Pandangannya penuh amarah. Debo yang melihat perubahan tatapan oik, memutarkan kepalanya dan melihat sosok obiet sedang berdiri tegap dibekangnya.


Oik membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga. Rsa amarah, kesal, sedih semuanya bercampur. Oik menyeka airmatanya sendiri dan terus belari entah kemana.



***


Kantung belanja yang ia bawa penuh dengan mie instan dan beberapa potong roti. Ia memang maniak mie instan. Tiada hari tanpa mie instan yang masuk ke dalam lambungnya. Bahkan ketika Rio, sahabat baiknya, memperingatkannya tentang bahaya dari memakan mie instan, ia hanya membalasnya dengan mengangguk dan kembali memakan mie instan.

“...lalala.. dududu..” lantunnya.

Ia melirik jam tangannya. Seharusnya ia sudah berada di apartemennya, sekarang. Ia harus mempersiapkan diri untuk menemui Oik lagi. Dalam minggu ini, Debo tidak memperbolehkannya menjenguk gadis itu. Alasannya hanya satu dan sangat tidak masik akal baginya.

“Oik membenciku? Debo memang konyol,” gumamnya.

Ia memutar tubuhnya, lalu berjalan pelan menuju tikungan. Sedikit mencondongkan tubuh, ketika ia sampai di ujungnya. Kepalanya bergerak ke segala penjuru, hanya untuk memastikan bahwa ia memiliki waktu yang tepat untuk sampai di seberang jalan. Begitu merasa tidak akan ada yang menghalangi perjalanan pulangnya, kaki kanannya mulai melangkah.

Bibirnya kering dikikis hawa dingin yang kembali menyergap bersamaan dengan bulir-bulir putih yang jatuh bergantian menimpa tubuhnya. Untuk kesekian kalinya ia membetulkan letak kantung belanjanya. Entah mengapa kantung ini terasa begitu menyebalkan. Kantung ini seakan ingin jatuh ke bawah. Dan yang anehnya, isi kantung belanjanya bahkan tidak lebih berat dari tumpukan 4 novel berukuran sedang. Kantung ini menghambat perjalanannya.

Dengan kesal, ia menepi. Menopang kantung belanjanya dengan kedua lututnya yang ada dalam posisi jongkok. Ia meraba bagian bawah kantung, dan menemukan dua ujung mie instan meronta-ronta ingin dikeluarkan. Dengan sabar, ia menjejalkan kembali kedua mie instan ke dalam kantung dan membawanya dengan satu tangan yang menopang bagian bawah kantung belanja, sementara yang lainnya mendekap kantung belanja itu dengan sangat erat.

Sama seperti biasanya, perjalanan menuju apartemennya sangat membosankan. Tidak ada hal menarik yang dapat ia perhatikan. Kebanyakan pertokoan di sepanjang jalan tutup. Entah karena ini musim dingin, atau karena gulung tikar. Ia menghela nafas panjang. Di tikungan selanjutnya ia akan berbelok, menuju apartemennya.

“... tolonglah.”

Ia berhenti di persimpangan. Menatap dua sosok yang baru saja muncul dari salah satu sudut jalan. Terlintas di pikirannya bahwa gadis dengan mantel coklat itu adalah Oik, dan lelaki yang mencoba menggenggam tangan sang gadis adalah Obiet. Tetapi ia segera menepis pemikirannya itu. Seorang pemuda tinggi semapai menyenggol bahu kanannya sehingga tubuhnya agak oleng. Dengan niatan menghujat pemuda tadi, ia sesegera mungkin menegakkan sekaligus membalikkan tubuhnya ke arah larinya pemuda tadi.

“Kau! Dimana letak mat....”

Bibirnya terkatup. Kedua bola matanya menampakkan isyarat kebosanan stadium akhir. Ia mengumpat dalam hati. “Apa aku ini dikutuk untuk selalu bertemu denganmu?!”

“... Tunggu! Tunggu, Oik!”

Ia mendekap kantung belanjanya lebih erat. Kemudian mulai menjejakkan kakinya dengan kekuatan yang lebih besar agar ia dapat menyusul langkah kaki pemuda yang berada jauh di depannya. Susah payah ia berlari mengejarnya. Mie instan dan beberapa potong roti yang berada di urutan paling atas dalam kantung belanjanya melompat-lompat tak karuan. Terpaksa, ia menghentikan larinya. Begitu selesai mengatur nafasnya, ponsel miliknya berdering. Barisan nomor yang tak dikenalnya berderet-deret di layar ponselnya.

“Halo?” “Apa benar saya bicara dengan saudara Deva?”

“Iya, saya Deva.”

“Saya dari kepolisian Tokyo. Saat ini kasus yang saudara ajukan beberapa hari yang lalu telah diproses. Dan surat penangkapan terhadap tersangka telah tur...”

“Kebetulan sekali!” potongnya.

“Saat ini orang itu, maksud saya tersangka, sedang berada beberapa meter dari tempat saya berdiri. Tolong segera tangkap dia.”

“Baiklah. Aktifkan GPS di ponsel saudara. Kami akan mengirimkan unit kami yang ada di dekat lokasi. Terima kasih atas kerja samanya.”

Tanpa membuang bannyak waktu, ia segera mengaktifkan GPS. Kemudian kembali memacu kaki-kakinya untuk mengejar ketertinggalan. Namun tak lama ia berhenti, lalu bersembunyi di balik tiang listrik di samping toko bunga. Ia meletakkan kantung belanjanya di samping rak bunga mawar. Lehernya sedikit menjulur, membiarkan kedua bola matanya menangkap gambaran dua sosok yang berada tak jauh darinya.

“Bukannya aku sudah katakan berkali-kali kalau aku nggak mau ketemu kakak lagi! Seharusnya Kak Obiet tau diri!” bentak si gadis sambil mengambil jarak sekenanya.

Pemuda yang tadi menyenggol pundaknya tadi, membuang nafas agak kasar. Manik coklat miliknya menatap lurus ke arah manik coklat si gadis.

“Aku juga pernah mengatakan kalau aku akan terus meminta maaf sampai kau memaafkan kesalahanku. Oik, tolonglah..”

Merasa sudah bosan dengan semua perkataan yang selalu keluar dari kedua orang di hadapannya, akhirnya ia memilih untuk mengawasi sekeliling. Bukannya ia tidak peduli lagi dengan permasalahan yang ada di depan matanya, tetapi untuk saat ini ia lebih tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan polisi, dalam bentuk apapun. Belum lama ia mencari, dari tikungan jalan muncul mobil patroli. Senyumnya mengembang melebihi ambang normal. Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya, melambai ke arah mobil patroli, lalu menunjuk pemuda yang memunggunginya. Seperti mengerti apa yang dimaksud, mobil patroli berhenti tepat di samping kedua orang yang masih sibuk berargumen tentang permintaan maaf.

Kaget dengan kehadiran dua polisi yang membawa surat penangkapan, membuat keduanya mematung. Mereka saling melirik satu sama lain. Tak satupun dari mereka yang mampu berkata-kata. Polisi kembali mencairkan suasana dengan membacakan isi surat penangkapan. Tetapi keduanya semakin tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Hingga salah salah satu dari mereka angkat bicara.

“Siapa yang melaporkan, kalau saya boleh tau,” tanya si Gadis.

“Aku,” jawabnya. Gadis itu menoleh. Ia tampak tidak kaget dengan jawaban itu.

“Deva? Harusnya aku tau. Ini urusanku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

Deva diam. Ia melirik Obiet, yang ada di sampingnya, yang tengah mematung menatap surat penangkapan dirinya. “Seharusnya kau tau, mengapa aku melakukannya. Oik, inilah penyelesaian yang kau cari.”

Suasana kembali hening. Polisi yang sudah bosan melihat pemandangan seperti ini, mulai mengambil langkah. Ia mendekati tujuan dari tugasnya hari ini, menangkap tersangka tabrak lari yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

Ia mendekati tersangka. Berniat menghiasi kedua lengannya dengan borgol. Namun belum sempat ia menyentuhkan borgol tersebut ke tangan tersangka, tangan tersangka telah hilang dari pandangannya.

“Jangan lari!” teriak kedua Polisi sambil berlari mengejar Obiet.

Deva mengepalkan tangannya dan seketika meninju pintu mobil polisi yang ada tepat di sampingnya. Ia melirik ke dalam mobil. Entah hanya perasaannya saja atau memang hal ini terjadi. Apa kedua polisi itu tidak memikirkan untuk mengejar Obiet dengan mobil patrolinya? Tanpa pikir panjang ia segera masuk ke dalam. Ia juga tidak mempedulikan Oik yang menggedor-gedor kaca pintu mobil.

Deru mobil menguasai kebisingan yang terdengar di telinga. Deva mengemudikan mobil patroli dengan bringas. Sering kali ia tidak memperhatikan jalan yang ada di depannya. Ia malah sibuk melihat ke samping kanan dan kirinya, mengharapkan buruannya dapat ia temukan dalam keadaan apapun. Memang ia seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. Tetapi satu hal yang ia sadari. Jarum itu akan tetap berada di dalam jerami jika ia tidak melakukan apapun. Sehingga satu-satunya hal yang dapat menyelesaikan masalahnya adalah terus mencari, sampai ia menemukannya.

Bukan secara kebetulan Deva dapat menemukan mereka, Obiet dan polisi itu. Ia memang menguasai jalanan di sekitar apartemennya. Tak lupa, insting pemburunya yang keluar secara otomatis ketika ia tengah dibuat marah. Dan yang terpenting, takdir. Deva yakin bahwa ia dikutuk untuk selalu terhubung dengan Obiet dalam hal-hal buruk. Semenjak Oik hilang ingatan, kejadian buruk selalu menimpa dirinya. Dan kini saatnya kejadian buruk menimpa Obiet.

Obiet yang tadinya berlarian di trotoar, terpaksa berpindah lintasan ke jalan raya untuk menghindari pejalan kaki yang memadati trotoar. Sementara itu, dua polisi tengah bersusah payah mengejarnya. Meskipun usianya baru berkepala 3, nafasnya terasa dua kali lebih tua dibandingkan dengan umur aslinya. Semakin lama jarak mereka semakin lebar. Polisi yang sudah lebih dari setengah jam mengejar Obiet, mulai putus asa. Suasana di sekelilingnya juga mendukung keputusannya. Salju yang baru saja turun 45 menit yang lalu, telah menutup sebagian jalan, sehingga agak susah untuk berlari di antara tumpukan salju. Salah satu di antara polisi itu mulai berpikir, mengapa ia tidak membawa mobil patrolinya tadi? Tumpukan salju ini bisa dengan mudah dilalui dengan mobil. Ia memukul keningnya sendiri.

Beberapa meter dari dua polisi yang berlari lemas itu, muncul mobil patroli yang menerobos tumpukan salju dengan mudah. Kecepatannya sudah melebihi 60 km/jam, sekarang. Kecepatan yang termasuk tinggi untuk menghadapi medan bersalju. Dalam hitungan detik, mobil itu telah melewati pengemudi aslinya. Dengan suara lantang polisi itu meneriaki mobil dinasnya, “MOBILKU!!” . dengan sigap ia mengambil walkie talkie dari kantung celananya, dan meminta bala bantuan.



***


“Hosh.. hhosh..”

Nafasnya memendek lebih cepat dari biasanya. Biasanya ia baru kewalahan bernafas saat berlari di menit ke-50. Mungkin ini karena ia jarang pergi ke gym, atau karena ia sedang terburu-buru, seperti saat ini. Jujur, ia tidak ingin terus berlari. Tetapi ia belum mendapatkan apa yang harus ia dapatkan dari Oik. Dan untuk itulah ia berlari.

“... hhosh.. hosh...”

Sepuluh meter lagi, ia mencapai tikungan. Sedikit melirik ke belakang, dan kembali berlari dengan mengurangi sedikit tenaganya. Polisi itu sudah tidak ada. Setidaknya ia dapat memulihkan tenaganya, walau hanya sebentar. Namun baru beberapa detik ia menikmati kesantaiannya, deru mobil terdengar mendekat. Mungkin tidak akan menjadi masalah jika ia berada di trotoar. Tetapi nyatanya ia berada di tengah jalan. Secepat mungkin ia menoleh dan mendapatkan kejutan yang tidak diharapkan. Mobil patroli berada tepat di belakangnya, dan yang paling buruk, Deva berada di bangku kemudi.

Tanpa pikir panjang. ia segera memacu otot-otot kakinya untuk berkerja sama dengan tulang-tulang penopang kakinya agar ia bisa menambah kecepatan berlari. Mungkin kali ini larinya akan terkalahkan oleh kecepatan mobil. Jika hal itu terjadi, ia akan terlindas olehnya, dan Deva akan tertawa penuh suka cita. Tetapi ia akan memastikan bahwa dirinya akan selamat.

“OBIET! MAU LARI KEMANA LAGI, HAH?! KALAU KAU TIDAK KEBERATAN, AKU AKAN MENUNJUKKAN JALANMU KE NERAKA! HAHAHA!”

Deva dapat mendengar perkataannya sendiri, dan entah mengapa ia bangga dengan perkataannya itu. Ia menganggap perkataannya sangat cocok dengan apa yang terjadi saat ini dan nanti. Benar, ia memang ingin perkataannya terkabul. Perkataan adalah sebuah doa, bukan?

Ia melihat Obiet berlari lurus. Obiet akan melewatkan tikungan yang ada di hadapannya, pikirnya. Tanpa menunggu aba-aba, Deva sudah menambah kecepatannya. Hal itu membuat mobil patroli sedikit terhuyung ke kanan dan ke kiri akibat jalanan yang tertutup salju. Tetapi salju tidak dapat menghentikannya. Ia terus memacu mobil dengan bringas. Sampai akhirnya Obiet membelokkan badannya ke arah tikungan dalam sekejap mata. Kelopak mata Deva terbuka lebar. Dengan sigap, ia menginjak pedal rem dan membanting setir ke kiri. Jalan yang licin karena bersalju, membuat mobil patroli itu tergelincir jauh dari targetnya, dan berhenti setelah menabrak dua mobil yang berada di depannya.

Asap mengepul tepat setelah kejadian. Body bagian kanan mobil patroli rusak parah, tetapi pengemudinya selamat, Deva selamat. Matanya terbuka lebar, mengisyaratkan kebencian yang mendalam. Darah segar merambat pelan di dahi kirinya. Ia menatap stang setir selama beberapa detik, sebelum ia menoleh ke kiri, menatap tajam orang yang menanyakan keadaan dirinya.

“Aa.. ah.. ter..ternyata kau tidak apa-apa. Syukurlah kau sel...”

Brumm!! Kerusakan akibat tabrakan tadi hanya sedikit mempengaruhi jalannya mobil patroli itu. Yah, setidaknya mobil ini masih bisa berjalan, bahkan sedikit mengebut. Hal ini sudah cukup bagi Deva yang kesetanan. Sekarang, di seluruh penjuru otaknya telah dipenuhi dengan pemikiran bagaimana cara tercepat untuk melumpuhkan Obiet. Dan jawaban itu datang dari laci dasbor yang terbuka karena benturan keras saat tabrakan terjadi. Deva meraih benda itu dan tertawa lepas seolah Dewi Fortuna berpihak padanya.



***


Obiet tidak dapat merasakan kedua kakinya. Hal itu terjadi karena ia terus memaksa mereka untuk berlari. Tetapi ini bukan saatnya untuk mengeluh. Ia yakin Deva akan terus memburunya, walaupun mobil patroli yang dikendarai Deva sudah tidak terlihat. Mungkin dengan berlari sedikit lagi akan menyelesaikan masalahnya. Ia menyeberang ke sisi jalan yang agak sepi. Kemudian berbelok ke kiri, ke gang yang sedikit terlihat lebar dan agak gelap karena tertutup bayangan sebuah gedung perkantoran yang ada di seberang jalan.

Obiet menghentikan acara berlarinya. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok dan mengambil nafas hingga semua fungsi tubuhnya kembali normal. Beberapa menit kemudian, ia mulai berdiri tegap sambil sedikit melemaskan pergelangan kakinya. Bunyi seperti tulang yang patah terdengar ketika ia mencoba memutar pergelangan kakinya. Obiet agak merintih kesakitan ketika ia mencoba menggerakkan kaki kanannya. Ia teringat kejadian di tempat parkir taman hiburan seminggu yang lalu. Deva yang secara sengaja menabraknya waktu itu telah membuat kerusakan yang agaknya fatal baginya.

Dengan sedikit tertatih-tatih, Obiet melangkah menyusuri gang yang sepi. Satu-satunya hal yang dapat ia pikirkan adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan Deva. Ia tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi dengan mudah. Seperti spekulasinya tentang hubungan Deva dan Oik sebelum kecelakaan itu, pastinya penyebab mengapa Deva begitu gigih dalam memperjuangkan Oik. Obiet memijat keningnya. Kemudian menggeleng pelan. Sedekat apapun hubungan mereka di masa lalu, sebodoh-bodohnya perbuatan yang ia lakukan, dan serendah-rendahnya sikapnya yang seolah mencirikannya seperti pembunuh bermuka tebal yang mengharap cinta sekaligus belas maaf dari korbannya yang selamat, membuat masalahnya semakin rumit. Obiet kembali menggeleng dan mengumpat pelan kepada dirinya sendiri.

Hanya ada segelintir orang yang sama sepertinya, berjalan menyusuri gang. Tak sedikit dari mereka yang terburu-buru, seperti terikat janji. Obiet menyeret kaki kanannya sambil terus berpegangan pada tembok-tembok di pinggir jalan. Menyadari bahwa kakinya mulai terasa aneh, Obiet memutuskan untuk kembali beristirahat.
Mungkin semua masalahnya akan selesai jika ia tidak beristirahat untuk kedua kalinya, karena beberapa menit setelah ia memutuskan hal itu, mobil patroli yang ringsep bagian kanannya kembali terlihat di mata Obiet. Seperti bensin yang tersulut api, Obiet segera berdiri tegak dan berjalan cepat menyusuri sisa gang. Begitu tiba di mulut gang, Obiet disambut oleh bemper mobil patroli. Tubuh Obiet membentur body mobil dengan keras. Obiet dapat merasakan beberapa tulangnya retak, atau mungkin patah.


Deva keluar dari mobil dengan seringai mengerikan khas serigala yang berhadapan dengan mangsanya. Di kedua matanya tercetak tulisan ‘Akulah pemenangnya’ dengan jelas. Tangan kanannya menggenggam revolver dengan mantap.

“Aku.. tidak akan pernah.. melepaskannya,” ujar Deva sambil menatap Obiet yang sudah terkulai tak berdaya.

“Dia.. milikku. Dulu.. sekarang.. selamanya. Kau.. tidak berhak sama sekali.”

“Deva.. kita bisa selesaikan ini de..”

“DIAM!” teriak Deva.

“Apa kau tau kalau kau sudah merusak segalanya. KAU MERUSAK SEGALANYA! DENGAR?! KAU MERUSAKNYA!” “Dev..” “DI HARI ITU AKU INGIN MENGATAKAN SEMUANYA! DI HARI ITU AKU INGIN DIA TAU PERASAANKU! DI HARI ITU AKU MENUNGGUNYA HINGGA MALAM HARI TAPI DIA TIDAK DATANG! KARNA KAU! KARNA KAU SUDAH MEMBUNUHNYA!”

“Aku tidak membunuhnya!” sanggah Obiet.

“Kau membunuhnya! KAU MEMBUNUH OIK-KU YANG DULU!” teriak Deva.

Obiet terdiam. Ia tidak dapat berargumen tentang hal ini.

“Sejak menyadari bahwa Oik kehilangan ingatannya, termasuk ingatan tentangku, aku sudah mencoba menerima keadaannya. Aku berharap dia dapat mengingatku kembali, atau setidaknya dia merasa mengenalku. Tapi kenyataannya tidak. Dia tidak merasakan apapun terhadapku. Tapi terhadapmu.. Dia menganggapmu seperti malaikat yang turun dari langit.”

“Sudah cukup bagimu untuk menguasainya. Masalah di antara kita tidak akan selesai hingga salah satu di antara kita menemui ajal,” ucap Deva. “Dan kurasa ini giliranmu.”

Deva menarik pelatuk revolvernya. Dengan sedikit seringai, ia mengucap salm perpisahan pada Obiet.

“Sayounara.”

0 komentar:

Posting Komentar

 

A N L Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea